Network Member
ITB CC

Welcome, Guest
You have to register before you can post on our site.

Username/Email:
  

Password
  





Forum Statistics
» Members: 725
» Latest member: ananteo
» Forum threads: 41
» Forum posts: 77

Full Statistics

Latest Threads
Kulwap 28 Mei 2017: Hibah...
Forum: Diskusi tracer study
28-May-2017, 04:46 PM
» Replies: 0   » Views: 4,350
Kulwap 15 Mei 2017
Forum: Konsultasi minat & bakat
28-May-2017, 04:39 PM
» Replies: 0   » Views: 3,510

 
  Sandiaga S. Uno, sukses di usia muda
Posted by: tutus.kusuma - 19-Jan-2016, 08:04 PM - Forum: Profil profesional Indonesia - Replies (1)

Sandiaga Salahudin Uno atau sering dipanggil Sandiaga Uno atau Sandi Uno adalah pengusaha muda dan ternama asal Indonesia. Sering hadir di acara seminar-seminar, Sandi Uno memberikan pembekalan tentang jiwa kewirausahaan (entrepreneurship), utamanya pada pemuda. Sandi lahir di Rumbai, Pekanbaru, 28 Juni 1969.

[Image: sandi-uno.jpg]

Sandi Uno memulai usahanya setelah sempat menjadi seorang pengangguran ketika perusahaan yang mempekerjakannya bangkrut. Bersama rekannya, Sandi Uno mendirikan sebuah perusahaan di bidang keuangan, PT Saratoga Advisor. Usaha tersebut terbukti sukses dan telah mengambil alih beberapa perusahaan lain. Pada tahun 2009, Sandi Uno tercatat sebagai orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia menurut majalah Forbes.

Di Indonesia, relatif amat susah mencari orang sukses dalam usia yang relatif muda, setidaknya dalam usia di bawah 40 tahun. Namun demikian, diantara susahnya menemukan orang sukses tersebut, muncul milyarder muda, Sandiaga Salahuddin Uno.

Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) pasti kenal dengan sosok Sandiaga S. Uno. Dia telah lengser dari jabatan ketua umum pusat organisasi yang beranggota lebih dari 30 ribu pengusaha itu.

Sandi -demikian penyandang gelar MBA dari The George Washington University itu biasa disapa- tercatat sebagai orang terkaya ke-63 di Indonesia versi Globe Asia. Kekayaannya USD 245 juta.

Sandi menyatakan tak disiapkan untuk menjadi pebisnis oleh orang tuanya. ”Orang tua lebih suka saya bekerja di perusahaan, tidak terjun langsung menjadi wirausaha,” ujar pria penggemar basket itu.

”Menjadi pengusaha itu pilihan terakhir,” akunya. Karena itulah, dia tak berpikir menjadi pengusaha seperti yang telah dilakoni selama satu dekade ini. ”Saya ini pengusaha kecelakaan,” katanya, lantas tertawa.

Kiprah bisnis Sandi kini dibentangkan lewat Grup Saratoga dan Recapital. Bisnisnya menggurita, mulai pertambangan, infrastruktur, perkebunan, hingga asuransi. Namun, dia masih punya cita-cita soal pengembangan bisnisnya. “Saya ingin masuk ke sektor consumer goods. Dalam 5-10 tahun mendatang, bisnis di sektor tersebut sangat prospektif,” katanya, optimistis.

Seorang pebisnis, kata dia, memang harus selalu berpikir jangka panjang. Bahkan, berpikir di luar koridor, berpikir apa yang tidak pernah terlintas di benak orang. “Mikir-nya memang harus jangka panjang.”

Dia mencontohkan, dirinya masuk ke sektor pertambangan awal 2000. Saat itu, sektor tersebut belum se-booming sekarang. ”Jadi, ketika sektor itu sekarang naik, kami sudah punya duluan,” ujarnya.

Sandi semula adalah pekerja kantoran. Pascalulus kuliah di The Wichita State University, Kansas, Amerika Serikat, pada 1990, Sandi mendapat kepercayaan dari perintis Grup Astra William Soeryadjaja untuk bergabung ke Bank Summa. Itulah awal Sandi terus bekerja sama dengan keluarga taipan tersebut. ”Guru saya adalah Om William (William Soeryadjaja, Red),” tutur pria kelahiran 28 Juni 1969 itu.

Bapak dua anak itu kemudian sedikit terdiam. Pandangannya dilayangkan ke luar ruang, memandangi gedung-gedung menjulang di kawasan Mega Kuningan. ”Saya masih ingat, sering didudukkan sama beliau (William Soeryadjaja, Red). Kami berdiskusi lama, bisa berjam-jam. Jiwa wirausahanya sangat tangguh,” kenangnya. William tanpa pelit membagikan ilmu bisnisnya kepada Sandi. Dia benar-benar mengingatnya karena itulah titik awal dia mengetahui kerasnya dunia bisnis.

Di tanah air, Sandi hanya bertahan satu setengah warsa. Dia harus kembali ke AS karena mendapat beasiswa dari bank tempatnya bekerja. Dia pun kembali duduk di bangku kuliah The George Washington University, Washington. Saat itulah, fase-fase sulit harus dia hadapi. Bank Summa ditutup. Sandi yang merasa berutang budi ikut membantu penyelesaian masalah di Bank Summa.

Sandi kemudian sempat bekerja di sebuah perusahaan migas di Kanada. Dia juga bekerja di perusahaan investasi di Singapura. ”Saya memang ingin fokus di bidang yang saya tekuni semasa kuliah, yaitu pengelolaan investasi,” tutur ayah dari Anneesha Atheera dan Amyra Atheefa itu.

Mapan sejenak, Sandi kembali terempas. Perusahaan tempat dia bekerja tutup. Mau tidak mau, dia kembali ke tanah air. ”Saya berangkat dari nol. Bahkan, kembali dari luar negeri, saya masih numpang orang tua,” katanya.

Sandi mengakui, dirinya semula kaget dengan perubahan kehidupannya. ”Biasanya saya dapat gaji setiap bulan, tapi sekarang berpikir bagaimana bisa survive,” tutur pria kelahiran Rumbai itu. Apalagi, ketika itu krisis.

Dia kemudian menggandeng rekan sekolah semasa SMA, Rosan Roeslani, mendirikan PT Recapital Advisors. Pertautan akrabnya dengan keluarga Soeryadjaja membawa Sandi mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama anak William, Edwin Soeryadjaja. Saratoga punya saham besar di PT Adaro Energy Tbk, perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia yang punya cadangan 928 juta ton batu bara.

Bisa dibilang, krisis membawa berkah bagi Sandi. ”Saya selalu yakin, setiap masalah pasti ada solusinya,” katanya. Sandi mampu ”memanfaatkan” momentum krisis untuk mengepakkan sayap bisnis. Saat itu banyak perusahaan papan atas yang tersuruk tak berdaya. Nilai aset-aset mereka pun runtuh. Perusahaan investasi yang didirikan Sandi dan kolega-koleganya segera menyusun rencana. Mereka meyakinkan investor-investor mancanegara agar mau menyuntikkan dana ke tanah air. ”Itu yang paling sulit, bagaimana meyakinkan bahwa Indonesia masih punya prospek.”

Mereka membeli perusahaan-perusahaan yang sudah di ujung tanduk itu dan berada dalam perawatan BPPN -lantas berganti PPA-. Kemudian, mereka menjual perusahaan itu kembali ketika sudah stabil dan menghasilkan keuntungan. Dari bisnis itulah, nama Sandi mencuat dan pundi-pundi rupiah dikantonginya.

Sandi terlibat dalam banyak pembelian maupun refinancing perusahaan-perusahaan. Misalnya, mengakuisisi Adaro, BTPN, hingga Hotel Grand Kemang. Dari situlah, kepakan sayap bisnis Sandi melebar hingga kini.


  Perusahaan paling diburu jobseeker tahun 2015
Posted by: tutus.kusuma - 19-Jan-2016, 06:41 PM - Forum: HR trends - Replies (1)

Careernews telah melakukan pendataan jenis perusahaan favorit jobseeker selama tahun 2015. Pendataan Careernews ini dilakukan dengan melihat data lamaran yang masuk melalui portal ECC UGM. Tentunya jumlah lamaran yang masuk dipengaruhi oleh ketersediaan lowongan yang ada, seperti posisi dan kualifikasi tertentu dari suatu perusahaan.

Lalu, apa saja jenis perusahaan favorit jobseeker selama 2015? Jenis perusahaan yang menempati urutan teratas adalah perusahaan dalam bidang teknologi informasi. Sebanyak 28 persen lamaran ditujukan untuk perusahaan teknologi informasi.

[Image: orig_1452236775_jenis_perusahaan_hits_72...w=400&zc=1]

Urutan kedua ditempati oleh jenis perusahaan media dan komunikasi. Dari lamaran yang ada, 16 persen lamaran tertuju pada jenis perusahaan media dan komunikasi. Sementara itu, perusahaan yang bergerak dalam bidang produk konsumsi menempati urutan ketiga dengan persentase 9 persen.

Secara berurutan jenis perusahaan industri kimia, komponen kendaraan, dan semen berada pada urutan 4, 5, dan 6. Di bawahnya diikuti oleh perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor, perdagangan dan industri, serta ritel dengan persentase yang tidak terpaut jauh. Dalam daftar jenis perusahaan terfavorit ini, perusahaan yang bergerak di bidang pertanian ternyata belum mampu menarik preferensi jobseeker pada tahun 2015 dengan berada pada urutan terakhir.

Sumber: http://careernews.id


  Mayoritas jobseeker sulit memilih minat karir
Posted by: nurhadi - 19-Jan-2016, 04:36 PM - Forum: HR trends - Replies (5)

Menurut data dari People Development Division ECC UGM tahun 2015, sebanyak 27 persen jobseeker dalam konselingnya mengaku memiliki permasalahan terkait pemilihan minat karir. Dengan kata lain, jobseeker masih mengalami kebingungan terhadap pilihan karir dan bagaimana menyesuaikan pilihan karirnya dengan minat dan potensi jobseeker.

[Image: attachment.php?aid=2]

Temuan ini diperkuat dengan data polling ECC UGM periode Oktober 2015 yang menunjukkan hanya sekitar 19,6 persen jobseeker yang mengaku bahwa pekerjaan mereka sesuai dengan minat dan potensi karir mereka.

Masih dilansir dari sumber data yang sama, dua permasalahan lain yang banyak dialami jobseeker berkaitan dengan tes wawancara dan psikotes. Sebanyak 20 persen jobseeker melakukan konseling untuk menyelesaikan permasalahan terkait dengan wawancara kerja. Sementara, 14 persen responden masih bermasalah dalam proses rekrutmen lainnya yaitu psikotes.

Selain tiga permasalahan di atas yang disinyalir menjadi problem mayoritas jobseeker, ada problem lain yang muncul dalam meja konseling. Seperti bagaimana membuat CV dan cover letter, bagaimana menghadapi tes LGD dan tes kesehatan, bagaimana menghadapi kehidupan kerja, serta hal-hal terkait tema dan kompetensi pribadi.



Attached Files Thumbnail(s)