Network Member
CCED UNILA

Welcome, Guest
You have to register before you can post on our site.

Username/Email:
  

Password
  





Forum Statistics
» Members: 723
» Latest member: kevinjunior
» Forum threads: 41
» Forum posts: 77

Full Statistics

Latest Threads
Kulwap 28 Mei 2017: Hibah...
Forum: Diskusi tracer study
28-May-2017, 04:46 PM
» Replies: 0   » Views: 3,711
Kulwap 15 Mei 2017
Forum: Konsultasi minat & bakat
28-May-2017, 04:39 PM
» Replies: 0   » Views: 2,948

 
Exclamation Rekrutmen Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan
Posted by: administrator - 22-Apr-2016, 11:32 AM - Forum: Serba-serbi - No Replies

Selamat pagi, para penggiat karir dan pengelola SDM Indonesia.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah membuka kesempatan kepada masyarakat Indonesia yang menyukai tantangan untuk bergabung sebagai Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan (PPKL) di daerah-daerah berikut ini:

  1. Nangroe Aceh Darussalam
  2. Sumatera Utara
  3. Jambi
  4. Bengkulu
  5. Sumatera Selatan
  6. Bangka Belitung
  7. Lampung
  8. Banten
  9. Kalimantan Barat
  10. Kalimantan Tengah
  11. Kalimantan Selatan
  12. Nusa Tenggara Barat
  13. Nusa Tenggara Timur
  14. Sulawesi Tengah
  15. Sulawesi Tenggara
Untuk itu, silakan sebrakan informasi ini seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Berkas lamaran silakan dikirimkan melalui email (softcopy) dan pos (hardcopy) ke alamat yang tertera pada lampiran, selambat-lambatnya tanggal 26 April 2016.

Untuk mendapatkan informasi yang lebih detil bagi setiap daerah, silakan buka pada lampiran.

Salam karir,
Administrator ICCN.



Attached Files Thumbnail(s)
                                                               

  Thursday WhatsApp Discussion 1: Tracer Study (March.03.2016)
Posted by: tutus.kusuma - 04-Mar-2016, 09:41 AM - Forum: Diskusi tracer study - Replies (2)

Fasilitator: Bambang SB. (ITB Career Center)
Moderator: Nuni Gofar (CDC Unsri)

Pertanyaan (Q) 1 (Andes IPB):
Sampai saat ini tingkat Response Rate masih dapat dianggap sebagai salah satu tingkat keberhasilan dari survey Tracer Study. Menurut Mas Bambang, pada tingkat response rate minimal berapa hasil tracer study masih dianggap valid?

Jawaban (A):
Saya tidak langsung menjawab berapa minimal response rate tracer study akan dianggap valid. Karena memang tidak ada standar minimal yang dianggap valid itu. Baik instansi nasional maupun internasional tidak pernah membicarakan atau bahkan memutuskan/menetapkan hal itu (mengenai prosentase minimal response rate yang dianggap valid).
Tetapi ada prinsip penting yang mesti kita ketahui. Bahwa karena metode riset tracer study berkaitan dengan responden itu adalah sensus atau sensal (bahasa Jerman), maka jumlah response rate menjadi penting. Selama itu metode sensus, semakin banyak response rate-nya, akan semakin mendekati profil riil dari target respondennya. Artinya, semakin banyak response rate-nya, akan semakin valid; dan semakin sedikit tentu saja semakin tidak valid.
Kecuali jika metode yang digunakan sampling, 10 persen atau 20 persen jg bisa mewakili target respondennya; tentu dengan pengambilan sampling yang punya metode tersendiri.
Metode sampling kenyataannya akan sulit diterapkan untuk riset tracer study, dan sampling tidak pernah direkomendasikan. Untuk riset tracer study dengan variabel pertanyaan yang sangat kompleks (lebih dari 180 variabel) itu akan sulit, atau hampir tidak mungkin dibuat sampling. Jadi, rekomendasinya di manapun harus, atau sebaiknya, menggunakan metode sensus atau sensal. Nah, selama itu menggunakan metode sensus atau sensal, maka selama itu pula response rate menjadi penting, dan bahkan sangat penting, karena itu justru menyangkut tingkat validitasnya.
Di sisi lain, justru saat ini, baik di Indonesia maupun di luar negeri, baik skala universitas, lembaga penelitian maupun skala negara, kelemahannya justru di situ: response rate yang rendah atau bahkan sangat rendah. Itulah mengapa kami di ITB, setelah melihat peta dan lanskap seperti itu, maka kita harus mencari inovasi-inovasi baru, improvement-improvement di semua sisi dan tahapan, dan sebagainya, untuk mengatasi hal itu (response rate rendah), dengan catatan tidak keluar dari guide-line dan tujuan dari tracer study itu sendiri.
Kalau seperti quick-count yang hanya 1, 2 atau beberapa variabel (yang ditanyakan), masih sangat mungkin untuk (menggunakan metode) sampling. Begitu pula kalau target responden yang mau diteliti itu cenderung homogen; mudah memakai sampling. Tetapi tracer study itu satu alumni dengan alumni lainnya sangat berbeda, jika disurvei dengan 180-an variabel pertanyaan itu. Jadi memang hanya dan hanya akan diakui (hasilnya) jika menggunakan (metode) sensus. Itupun tidak boleh menggunakan event-event atau kegiatan tertentu (cara menarik responden untuk melakukan) pengisiannya, harus menggunakan standar yang baku yang sudah ditetapkan untuk tracer study.
Bila menggunakan acara reunian, misalnya, mereka diminta mengisi, maka hasilnya bisa bias krn yang datang reuni mungkin (hanya alumni) yang sukses-sukses, (sementara alumni) yang sama sekali tidak sukses mungkin bisa saja tidak hadir dan lain sebagainya.
Jd harus semuanya baik yang sukses maupun tidak, yang kerja maupun (yang) menganggur dst., karena itu tadi dilakukan sensus untuk target responden yang sudah ditetapkan dalam tahun itu. Dengan demikian data menjadi lebih valid, apalagi (jika) response rate yang (diperoleh) tinggi, tentu saja akan semakin valid.

Moderator: Sensus alumni lulusan 2 tahun sebelum sensus (dilakukan).

Lanjutan Q1: Berdasarkan pengalaman yang dilakukan oleh ITB dengan hasil response rate yg berbeda (dalam 4 tahun terakhir),  apakah ada kecenderungan yg relatif hampir sama dari hasil yang didapat, misalnya kecenderungam lulusan yang bekerja terdapat pada angka-angka yang hampir sama?

A:
Intinya Mas Andes, tentu saja ada yang sama ada yang berbeda. Selama tahun terakhir ada beberapa variabel yang hampir sama terus, tetapi ada juga yang berubah. (Variabel) yang berubah, dan itu cukup menggembirakan kami di ITB, adalah jumlah lulusan yang berwirausaha, itu (mencapai) 5.2 hingga 5.4 persen. Bahkan di 2 tahun terakhir mencapai 7.0 hingga 7.1 persen (lulusan yang) berwirausaha.
(Variabel) yang tetap misalnya, pendapatan tertinggi (per bulan) rata-rata selalu sama, (dari) prodi perminyakan. Rata-rata terus-menerus 16-18 juta per bulan (ini rata-rata ya, baik di dalam maupun luar negeri, dari alumni perminyakan). Dan (prodi tersebut) menempati urutan pertama terus tidak tergoyahkan.

Q2 (Anne Hafina UPI):
Mas Bams, instrumen yang digunakan (oleh ITB) itu yang mana, jumlahnya berapa? Yang dari Dikti sekarang kan 18 item?

A:
Instrumen Dikti memang singkat sekali Mbak. Hanya variabel-variabel tertentu saja. Tetapi apabila menggunakan instrumen core questioner unitrace dan indotrace, (instrumen) yang (dikeluarkan oleh) Dikti sudah lewat atau tercakup semuanya. Makanya lebih tebal, dan kalau di-print itu bisa 18 halaman.
Tetapi kalau (menggunakan sistem) online, bisa diatur, dan harus memakai trik-trik supaya alumni tidak merasa terbebani hehehe.. nah ini mah rahasia.. hehe.. semua nanti buka dapur deh ??

Q3 (Muhammad Iqbal Binus):
Media apa yang efektif untuk metode sensus or sensal, supaya mereka (alumni) lebih nyaman mengisi?

A:
Media apa yang efektif untuk sensus, nah ini menyangkut PT masing-masing. Karena efektif di ITB atau efektif untuk para alumni target responden di ITB belum tentu efektif (diaplikasikan) untuk PT lainnya. Jadi kita perlu mengenali juga karakteristik alumni PT kita masing-masing, atau culturenya, dan sebagainya (ini juga strategi untuk mendapatkan response rate yang tinggi).
Misalnya di ITB. Tentu kami menggunakan online questioner dan web tersendiri, sistem IT yang dibangun sendiri, selalu berusaha mengikuti perkembangan terbaru dalam IT. Cara pengisian, karena banyak (responden yang) menggunakan gadget, jadi kita sesuaikan dengan hal itu, baik pakai (platform) iOS maupun Android. Browser-browser baru harus bisa compatible, seperti browser-browser Android yang banyak itu. Tentu dipilih yang banyak dipakai seperti UC Browser, dsb. Browser Google Chrome sudah pasti compatible.
Ya itu media yang kita pakai di ITB, dengan karakteristik hampir semua/kebanyakan mereka (alumni) melek teknologi dan pengguna gadget atau aktif di media sosial.
Saya pernah mendapat pertanyaan dari kolega yang universitasnya saja belum memakai internet, begitu pula alumninya mungkin tidak terlalu banyak yang menggunakannya. Kalau begitu tentu media yang digunakan di ITB tidak cocok sama sekali.

Q4 (Ambar Kusuma UKDW):
Trik-trik supaya alumni tidak merasa terbebani dengan kuesioner yang berbutir-butir itu seperti apa ya Mas Bams?

A:
Pengalaman kami di ITB menarik sekali. Bahkan di tracer study yang terakhir sangat menarik: belum kita launch untuk mengisi saja mereka sudah pada menunggu-nunggu, untuk pengisian. Baru kita buka boleh mengisi selama seminggu, pengisian kuesioner sudah mencapai 60 persen.. hehehe ??
Trik-nya apa aja? Nah, ini panjang ini mbak ???. Jadi untuk semetara kita skip dulu karena panjang untuk yang ini ya...

Q5 (Farid Maulana Unsyiah):
Bagaimana solusinya kalau response rate rendah karena banyak alumni tidak terlalu paham dalam bidang IT dan juga mereka banyak berasal dari kampung-kampung yang akses internetnya susah juga?

A:
Intinya mesti dipikirkan sih Pak Farid, dicari inovasi, langkah-langkah, improvement di semua tahapan dan semua sisi. Kalau yang tidak atau kurang melek IT dan tinggal di desa-desa bagaimana dst.
Sekedar contoh sedikit, waktu di Exlima Bali, ada satu negara Afrika (saya lupa namanya), yang lebih parah atau parah banget malahan: tidak ada internet, tidak ada telepon, dan di desa-desa tinggalnya. Suratpun belum tentu tersampaikan. (Dibandingkan dengan mereka) kita masih jauh lebih baik. Tetapi effort mereka, kita bilang, "Gila.. You are crazy!" Response rate mereka 60 persen! Karena ternyata apa usahanya? (Alumni) mereka datangi satu per satu. Dicari dan ditemui satu-satu. Tentu saja kita bilang pasti effort-nya top deh: dari waktu, tenaga, biaya, dst. Karena memang itu katanya satu-satunya cara untuk bisa dapat data alumni yang jadi target respondennya, dan infrastukturnya memang tidak memungkinkan kecuali hanya (dengan cara) itu: didatangi, dan ditemui.
Jadi kondisi kita sebenarnya masih lebih baik atau jauh lebih baik (secara umum). Memang satu kesimpulan singkatnya untuk mendapatkan response rate yang tinggi, itu sejak dulu saya percaya betul, karena itu masalah yang paling mengemuka juga sejak saya sendiri mempelajari ini. Salah satu kunci pentingnya adalah seberapa gigih pengelola atau peneliti untuk mendapatkan (data untuk menghasilkan) response rate tinggi tersebut, dengan berbagai metode, teknik, pendekatan, hingga detil-detil kecil, semua perlu dipikirkan, dipraktekkan, terus selalu diperbaiki, dilakuan improvement, dst. Tentu kita pahami dulu guidance-nya dan tujuan-tujuannya, perangkat-perangkat, lalu kita selalu mencari kemungkinan-kemungkinan baru, inovasi dan improvement tadi.

Moderator: Yang pasti tidak bisa instan..

Lanjutan A: Betul Mbak Nun, tidak bisa instan. Sama sekali tidak bisa instan. Dan jangan puas dengan perolehan atau hasil atau metode atau teknik atau pendekatan yg sudah ada, dst. Kita selalu lakukan evaluasi dan lakukan inovasi dan perbaikan pada semua sisi. Saya percaya betul yang dikatakan Mbak Nuni tadi, tidak bisa langsung instan, tetapi bertahap dan terjadi development; itu yang akan membuat kita semakin baik dan matang.

Moderator:
Masih ada beberapa pertanyaan lagi yang membutuhkan ruang dan waktu cukup lama untuk dibahas. Mas Bams belum istirahat tuh.. Ocre teman temin, kita tutup dulu ya diskusinya. Kesimpulan sementara:

  • TS merupakan penelitian terhadap populasi alumni yang lulus 1-3 tahun sebelum pelacakan. Makin tinggi response rate makin tinggi pula validitasnya;
  • Trik untuk meningkatkan response alumni tidak akan sama untuk setiap PT karena karakteristik alumni setiap PT berbeda; dan
  • Dibutuhkan usaha keras untuk mengenal karakteristik alumni setiap PT agar dapat mendapatkan response rste yg tinggi.
Selamat malam dan selamat istirahat semuanya. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

[Image: 1936052_1195779331163_3910680_n.jpg?oh=7...e=57528EC8]
Fasilitator: Bambang SB. (ITB Career Center)


*editor: Tutus Kusuma.


  Menyulam Jejaring Keindonesiaan: Menyerat Masa Silam Menggurat Masa Depan
Posted by: Bambangsb - 29-Feb-2016, 11:38 AM - Forum: Serba-serbi - No Replies

Akhir pekan ini saya beranjak berangkat dari Kota Yogyakarta menuju Kota Solo untuk selanjutnya baru kembali ke Bandung. Selama tiga hari saya di Kota Gudeg itu untuk mengikuti Pra Summit ke-3 Jejaring Pusat Karir seluruh Indonesia di Universitas Gajah Mada, dengan host ECC UGM. 

Setiap kali mengunjungi dua kota ini mengingatkan saya pada perjanjian Giyanti 1755, dimana wilayah Mataram terbagi menjadi Kasunanan Surakarta dengan Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian itu dibuat oleh Pakubuwana III dengan Pangeran Mangkubumi dan Belanda. Pembagian itu pada dasarnya tak lepas dari strategi kolonial untuk memecah dan membagi kekuasaan itu menjadi lebih kecil. 

Belum lama setelah itu, kembali wilayah Mataram terbagi lagi dengan perjanjian Salatiga 1757 karena konflik segitiga antara Pangeran Samber Nyawa (Raden Mas Said), Hamengkubuwana I atau Pangeran Mangkubumi (Yogyakarta) dengan Pakubuwana III (Surakarta). Perjanjian dilakukan di kantor VOC di Salatiga.

Tentu saja keterlibatan Belanda tidak kecil dalam konflik itu, yakni dengan menarik Pangeran Mangkubumi berada di pihaknya dan mendorong perjanjian untuk membagi lagi kekuasaan dan wilayah Mataram semakin kecil-kecil. Perjanjian di kantor Belanda itu, memunculkan penguasa baru yakni Raden Mas Said sebagai adipati Mangkunegaran, dengan kekuasaan membelah dari Surakarta dan sebagian kecil Yogyakarta khususnya daerah Ngawen. 

Belum cukup sampai di situ, pada tahun 1813, strategi kolonial berhasil memecah lagi kekuasaan dan bekas wilayah Mataram ini khususnya Kasultanan Yogyakarta menjadi lebih kecil lagi. Yakni munculnya Pakualaman, oleh Gubernur Jenderal Sir Thomas Raffles dengan mengangkat Pangeran Notokusumo, Putra Sultan Hamengkubuwana I dari Selir Srenggorowati menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Pakualaman, dengan status mirip dengan penguasa Mangkunegaran di Surakarta. Lengkap sudah pembagian-pembagian kekuasaan dan wilayah itu menjadi kecil-kecil.

Sepanjang sejarah dapat dilihat bahwa antara para penguasa itu tidak pernah akur, satu sama lain saling berseteru dan tidak pernah bersatu. Di sini juga dilihat pihak kolonial/asing selalu bermain dan mengatur irama ketegangan-ketegangan itu agar seimbang dan terus berkelanjutan.

Akankah kita terus seperti itu? Apabila berpecah belah atau terpisah-pisah dan asyik bermain sendiri-sendiri, sebenarnya yang diuntungkan itu adalah pihak luar/asing. Karena mereka memanfaatkan kelemahan ini. 

Dalam konteks hari ini, peristiwa sejarah selalu saja relevan untuk kita pelajari, renungi, dan susun langkah-langkah baru dalam menghadapi tantangan-tantangan ke depan pada semua sisi kehidupan kita dan skala bangsa saat ini.

Satu contoh misalnya terkait dengan masuknya kita di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dimana terbukanya arus barang dan jasa, modal hingga arus SDM atau tenaga profesional di wilayah negara-negara ASEAN. Tantangan ini sudah semestinya bisa dihadapi dengan kita tidak masing-masing berdiri sendiri-sendiri dalam semua lini. 

Dalam skala yang kecil, masing-masing pusat karir di berbagai perguruan tinggi  sudah semestinya tidak hanya memikirkan bagaimana urusannya sendiri-sendiri untuk meningkatkan layanan dan penguatan SDM masing-masing, tetapi juga perlu untuk bersinergi dan berkolaborasi untuk menguatkan kualitas SDM dalam lingkup yang lebih luas secara nasional. 

Belum lagi penetrasi perusahaan-perusahaan swasta dalam kurun kurang dari 10 tahun terakhir yang umumnya juga dari luar negeri/asing yang core business nya sama atau hampir sama dengan pusat karir tetapi sangat berbeda di dalam prinsip. Mereka memanfaatkan kelemahan khususnya di bidang IT untuk mengambil aset paling berharga yakni SDM lulusan-lulusan perguruan tinggi kita. Dengan database itu mereka me-leverage dirinya menjadi sangat berharga di mata perusahaan-perusahaan yang mencari SDM barunya. Bahkan juga bukan hanya dengan perusahaan-perusahaan tetapi dengan pemerintah kita sendiri (?). Weww.

Berjejaring adalah salah satu dari persiapan dan jawaban itu, karena kita pun meyakini bahwa satu lidi akan tetap lemah sekuat apapun itu, dan tidak akan berguna untuk membersihkan seisi rumah. Namun bila lidi-lidi itu digabung dan diikat menjadi sapu maka ia akan sangat kuat, kokoh, tidak mudah dipatahkan, dan mampu membersihkan rumah dengan cepat, efisien, dan efektif.
____

Bambang Setia Budi
ITB Career Center
28/2/2016
Catatan di atas Kereta Prameks perjalanan Jogja-Solo pkl. 11.05-12.20