• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Thursday WhatsApp Discussion 1: Tracer Study (March.03.2016)

#1
Fasilitator: Bambang SB. (ITB Career Center)
Moderator: Nuni Gofar (CDC Unsri)

Pertanyaan (Q) 1 (Andes IPB):
Sampai saat ini tingkat Response Rate masih dapat dianggap sebagai salah satu tingkat keberhasilan dari survey Tracer Study. Menurut Mas Bambang, pada tingkat response rate minimal berapa hasil tracer study masih dianggap valid?

Jawaban (A):
Saya tidak langsung menjawab berapa minimal response rate tracer study akan dianggap valid. Karena memang tidak ada standar minimal yang dianggap valid itu. Baik instansi nasional maupun internasional tidak pernah membicarakan atau bahkan memutuskan/menetapkan hal itu (mengenai prosentase minimal response rate yang dianggap valid).
Tetapi ada prinsip penting yang mesti kita ketahui. Bahwa karena metode riset tracer study berkaitan dengan responden itu adalah sensus atau sensal (bahasa Jerman), maka jumlah response rate menjadi penting. Selama itu metode sensus, semakin banyak response rate-nya, akan semakin mendekati profil riil dari target respondennya. Artinya, semakin banyak response rate-nya, akan semakin valid; dan semakin sedikit tentu saja semakin tidak valid.
Kecuali jika metode yang digunakan sampling, 10 persen atau 20 persen jg bisa mewakili target respondennya; tentu dengan pengambilan sampling yang punya metode tersendiri.
Metode sampling kenyataannya akan sulit diterapkan untuk riset tracer study, dan sampling tidak pernah direkomendasikan. Untuk riset tracer study dengan variabel pertanyaan yang sangat kompleks (lebih dari 180 variabel) itu akan sulit, atau hampir tidak mungkin dibuat sampling. Jadi, rekomendasinya di manapun harus, atau sebaiknya, menggunakan metode sensus atau sensal. Nah, selama itu menggunakan metode sensus atau sensal, maka selama itu pula response rate menjadi penting, dan bahkan sangat penting, karena itu justru menyangkut tingkat validitasnya.
Di sisi lain, justru saat ini, baik di Indonesia maupun di luar negeri, baik skala universitas, lembaga penelitian maupun skala negara, kelemahannya justru di situ: response rate yang rendah atau bahkan sangat rendah. Itulah mengapa kami di ITB, setelah melihat peta dan lanskap seperti itu, maka kita harus mencari inovasi-inovasi baru, improvement-improvement di semua sisi dan tahapan, dan sebagainya, untuk mengatasi hal itu (response rate rendah), dengan catatan tidak keluar dari guide-line dan tujuan dari tracer study itu sendiri.
Kalau seperti quick-count yang hanya 1, 2 atau beberapa variabel (yang ditanyakan), masih sangat mungkin untuk (menggunakan metode) sampling. Begitu pula kalau target responden yang mau diteliti itu cenderung homogen; mudah memakai sampling. Tetapi tracer study itu satu alumni dengan alumni lainnya sangat berbeda, jika disurvei dengan 180-an variabel pertanyaan itu. Jadi memang hanya dan hanya akan diakui (hasilnya) jika menggunakan (metode) sensus. Itupun tidak boleh menggunakan event-event atau kegiatan tertentu (cara menarik responden untuk melakukan) pengisiannya, harus menggunakan standar yang baku yang sudah ditetapkan untuk tracer study.
Bila menggunakan acara reunian, misalnya, mereka diminta mengisi, maka hasilnya bisa bias krn yang datang reuni mungkin (hanya alumni) yang sukses-sukses, (sementara alumni) yang sama sekali tidak sukses mungkin bisa saja tidak hadir dan lain sebagainya.
Jd harus semuanya baik yang sukses maupun tidak, yang kerja maupun (yang) menganggur dst., karena itu tadi dilakukan sensus untuk target responden yang sudah ditetapkan dalam tahun itu. Dengan demikian data menjadi lebih valid, apalagi (jika) response rate yang (diperoleh) tinggi, tentu saja akan semakin valid.

Moderator: Sensus alumni lulusan 2 tahun sebelum sensus (dilakukan).

Lanjutan Q1: Berdasarkan pengalaman yang dilakukan oleh ITB dengan hasil response rate yg berbeda (dalam 4 tahun terakhir),  apakah ada kecenderungan yg relatif hampir sama dari hasil yang didapat, misalnya kecenderungam lulusan yang bekerja terdapat pada angka-angka yang hampir sama?

A:
Intinya Mas Andes, tentu saja ada yang sama ada yang berbeda. Selama tahun terakhir ada beberapa variabel yang hampir sama terus, tetapi ada juga yang berubah. (Variabel) yang berubah, dan itu cukup menggembirakan kami di ITB, adalah jumlah lulusan yang berwirausaha, itu (mencapai) 5.2 hingga 5.4 persen. Bahkan di 2 tahun terakhir mencapai 7.0 hingga 7.1 persen (lulusan yang) berwirausaha.
(Variabel) yang tetap misalnya, pendapatan tertinggi (per bulan) rata-rata selalu sama, (dari) prodi perminyakan. Rata-rata terus-menerus 16-18 juta per bulan (ini rata-rata ya, baik di dalam maupun luar negeri, dari alumni perminyakan). Dan (prodi tersebut) menempati urutan pertama terus tidak tergoyahkan.

Q2 (Anne Hafina UPI):
Mas Bams, instrumen yang digunakan (oleh ITB) itu yang mana, jumlahnya berapa? Yang dari Dikti sekarang kan 18 item?

A:
Instrumen Dikti memang singkat sekali Mbak. Hanya variabel-variabel tertentu saja. Tetapi apabila menggunakan instrumen core questioner unitrace dan indotrace, (instrumen) yang (dikeluarkan oleh) Dikti sudah lewat atau tercakup semuanya. Makanya lebih tebal, dan kalau di-print itu bisa 18 halaman.
Tetapi kalau (menggunakan sistem) online, bisa diatur, dan harus memakai trik-trik supaya alumni tidak merasa terbebani hehehe.. nah ini mah rahasia.. hehe.. semua nanti buka dapur deh ??

Q3 (Muhammad Iqbal Binus):
Media apa yang efektif untuk metode sensus or sensal, supaya mereka (alumni) lebih nyaman mengisi?

A:
Media apa yang efektif untuk sensus, nah ini menyangkut PT masing-masing. Karena efektif di ITB atau efektif untuk para alumni target responden di ITB belum tentu efektif (diaplikasikan) untuk PT lainnya. Jadi kita perlu mengenali juga karakteristik alumni PT kita masing-masing, atau culturenya, dan sebagainya (ini juga strategi untuk mendapatkan response rate yang tinggi).
Misalnya di ITB. Tentu kami menggunakan online questioner dan web tersendiri, sistem IT yang dibangun sendiri, selalu berusaha mengikuti perkembangan terbaru dalam IT. Cara pengisian, karena banyak (responden yang) menggunakan gadget, jadi kita sesuaikan dengan hal itu, baik pakai (platform) iOS maupun Android. Browser-browser baru harus bisa compatible, seperti browser-browser Android yang banyak itu. Tentu dipilih yang banyak dipakai seperti UC Browser, dsb. Browser Google Chrome sudah pasti compatible.
Ya itu media yang kita pakai di ITB, dengan karakteristik hampir semua/kebanyakan mereka (alumni) melek teknologi dan pengguna gadget atau aktif di media sosial.
Saya pernah mendapat pertanyaan dari kolega yang universitasnya saja belum memakai internet, begitu pula alumninya mungkin tidak terlalu banyak yang menggunakannya. Kalau begitu tentu media yang digunakan di ITB tidak cocok sama sekali.

Q4 (Ambar Kusuma UKDW):
Trik-trik supaya alumni tidak merasa terbebani dengan kuesioner yang berbutir-butir itu seperti apa ya Mas Bams?

A:
Pengalaman kami di ITB menarik sekali. Bahkan di tracer study yang terakhir sangat menarik: belum kita launch untuk mengisi saja mereka sudah pada menunggu-nunggu, untuk pengisian. Baru kita buka boleh mengisi selama seminggu, pengisian kuesioner sudah mencapai 60 persen.. hehehe ??
Trik-nya apa aja? Nah, ini panjang ini mbak ???. Jadi untuk semetara kita skip dulu karena panjang untuk yang ini ya...

Q5 (Farid Maulana Unsyiah):
Bagaimana solusinya kalau response rate rendah karena banyak alumni tidak terlalu paham dalam bidang IT dan juga mereka banyak berasal dari kampung-kampung yang akses internetnya susah juga?

A:
Intinya mesti dipikirkan sih Pak Farid, dicari inovasi, langkah-langkah, improvement di semua tahapan dan semua sisi. Kalau yang tidak atau kurang melek IT dan tinggal di desa-desa bagaimana dst.
Sekedar contoh sedikit, waktu di Exlima Bali, ada satu negara Afrika (saya lupa namanya), yang lebih parah atau parah banget malahan: tidak ada internet, tidak ada telepon, dan di desa-desa tinggalnya. Suratpun belum tentu tersampaikan. (Dibandingkan dengan mereka) kita masih jauh lebih baik. Tetapi effort mereka, kita bilang, "Gila.. You are crazy!" Response rate mereka 60 persen! Karena ternyata apa usahanya? (Alumni) mereka datangi satu per satu. Dicari dan ditemui satu-satu. Tentu saja kita bilang pasti effort-nya top deh: dari waktu, tenaga, biaya, dst. Karena memang itu katanya satu-satunya cara untuk bisa dapat data alumni yang jadi target respondennya, dan infrastukturnya memang tidak memungkinkan kecuali hanya (dengan cara) itu: didatangi, dan ditemui.
Jadi kondisi kita sebenarnya masih lebih baik atau jauh lebih baik (secara umum). Memang satu kesimpulan singkatnya untuk mendapatkan response rate yang tinggi, itu sejak dulu saya percaya betul, karena itu masalah yang paling mengemuka juga sejak saya sendiri mempelajari ini. Salah satu kunci pentingnya adalah seberapa gigih pengelola atau peneliti untuk mendapatkan (data untuk menghasilkan) response rate tinggi tersebut, dengan berbagai metode, teknik, pendekatan, hingga detil-detil kecil, semua perlu dipikirkan, dipraktekkan, terus selalu diperbaiki, dilakuan improvement, dst. Tentu kita pahami dulu guidance-nya dan tujuan-tujuannya, perangkat-perangkat, lalu kita selalu mencari kemungkinan-kemungkinan baru, inovasi dan improvement tadi.

Moderator: Yang pasti tidak bisa instan..

Lanjutan A: Betul Mbak Nun, tidak bisa instan. Sama sekali tidak bisa instan. Dan jangan puas dengan perolehan atau hasil atau metode atau teknik atau pendekatan yg sudah ada, dst. Kita selalu lakukan evaluasi dan lakukan inovasi dan perbaikan pada semua sisi. Saya percaya betul yang dikatakan Mbak Nuni tadi, tidak bisa langsung instan, tetapi bertahap dan terjadi development; itu yang akan membuat kita semakin baik dan matang.

Moderator:
Masih ada beberapa pertanyaan lagi yang membutuhkan ruang dan waktu cukup lama untuk dibahas. Mas Bams belum istirahat tuh.. Ocre teman temin, kita tutup dulu ya diskusinya. Kesimpulan sementara:
  • TS merupakan penelitian terhadap populasi alumni yang lulus 1-3 tahun sebelum pelacakan. Makin tinggi response rate makin tinggi pula validitasnya;
  • Trik untuk meningkatkan response alumni tidak akan sama untuk setiap PT karena karakteristik alumni setiap PT berbeda; dan
  • Dibutuhkan usaha keras untuk mengenal karakteristik alumni setiap PT agar dapat mendapatkan response rste yg tinggi.
Selamat malam dan selamat istirahat semuanya. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

[Image: 1936052_1195779331163_3910680_n.jpg?oh=7...e=57528EC8]
Fasilitator: Bambang SB. (ITB Career Center)


*editor: Tutus Kusuma.
Reply

#2
AlhamduLILLAH...

Banyak hal yg bisa kita pelajari bersama dari pengalaman pengelolaan ITB CC, Mba Nuni mohon untuk didokumentasikan dan akan bahan diskusi selanjutnya, pertanyaan yg belum dijawab oleh Mas Bams.

Saya kmrn ingin belajar terkait TS, setelah metodologi dan strategi meningkatkan respon rate yg luar biasa dilakukan Mas Bams dkk, saya ingin belajar bagaimana:
1. Menyajikan data-data TS untuk ditampilkan kepada stakeholder di ITB.
2. Bagaimana implementasi rekomendasi atau kesimpulan dari hasil TS untuk perbaikan kurikulum maupun perbaikan/peningkatan metode pembelajaran.
3. Bagaimana dampak dari hasil TS tersebut dan jika sudah ada implementasi, indikator keberhasilan apa yang sudah tampak.
4. Berdasarkan pengalaman ITB CC dari tahun ke tahun, adakah perbandingan apple to apple dari tahun ke tahun tentang impact dari implementasi rekomendasi dari TS ITB.
5. Seberapa jauh peranan ITB CC dalam implementasi rekomendasi TS di luar wewenang ITB CC.

Matur nuwun Mas Bams dkk.

Nurhadi
Reply

#3
Lanjutan diskusi Tracer Study (March.10.2016)

Fasilitator: Bambang SB. (ITB Career Center)
Moderator: Nuni Gofar (CDC Unsri)

Moderator: Assalamu'alaikum Wr. Wb. Mas mas dan mba mbak.. Bagaimana kalau kita mulai lagi acara diskusi tentang tracer study? Mas fasilitator sudah siap dengan menjawab pertanyaan tersisa minggu lalu.. monggo jika ada yg mau berkomen di sela-sela diskusi.

Fasilitator: Selamat malam mba dan mas... Ya Mbak Nun Mbak moderator.... ini saya mulai dengan mencoba menjawab pertanyaan lanjutan ya.

Pertanyaan (Q) 6 (Mas Andes IPB):
Berdasarkan pengalaman Mas Bambang pada kegiatan tracer study di ITB, berapa besar tingkat keberhasilan kegiatan tersebut kalau hanya dilakukan dengan menggunakan ‘on line’ tanpa pendekatan metode lainnya seperti SMS, telepon, ataupun “langsung temu muka”?

Jawaban (A):
Mas Andes, kami di ITB hanya punya pengalaman 2 perbedaan. Pertama menggunakan core questioner yang di-develop sendiri dan dikirim via email attachment (tahun 2010 dan 2011) hanya untuk 3 prodi yang akan ikut akreditasi internasional ABET. Hasilnya beragam, dari 30 persen hingga 50 persen response rate. Tentu itu sudah termasuk dengan di-telepon selain dikirim email.
Kedua menggunakan core questioner yang mengadopsi (pertanyaan) dari unitrace dan indotracer dengan penyesuaian-penyesuaian dan tambahan-tambahan pertanyaan dari ITB, dan bahkan tambahan beberapa pertanyaan spesifik prodi masing-masing (yang ada). Dan mulai dengan questioner online dengan menggunakan dan mendevelop sistem IT sendiri. Awalnya kita coba pakai QTAFI, tetapi dari tim IT ada beberapa kendala dan saya minta diselesaikan dengan langsung menghubungi (service center) QTAFI-nya, (namun) tidak segera dijawab, sehingga dengan waktu yang semakin pendek kita develop sistem IT sendiri secara sederhana. Lalu semakin tahun sistem IT-nya semakin kita sempurnakan dan sekarang sudah release (versi) ke-4, semakin matang dan compatible dengan semua browser dan platform, baik Android maupun iOS. Karena banyak yang mengisi makin ke sini menggunakan gadget. Tentu saja selain email blast di awal, SMS dan telepon juga digunakan. Bulan pertama email, bulan kedua SMS, dan bulan ketiga (juga SMS), dan bila diperlukan sekali baru menggunakan telepon.
Jadi dari online itu langsung kita gunakan email blast, SMS, dan telepon. Semua digunakan tetapi dengan bertahap. Kita buka hanya 3 bulan masa pengisian. Response rate terus meningkat. Tracer Study 2012 50%, TS 2013 72%, TS 2014 80% dan TS 2015 93%. Kunci salah satunya selalu melakukan inovasi dan improvement di semua aspek/sisi dan setiap tahap/langkahnya. Ada 10 prodi di tahun 2015 kmrn yg mengisi 100%.

Q7 (Mas Andes IPB):
Untuk kasus lulusan profesi seperti kedokteran hewan di IPB, apakah responden yang kita ambil untuk keperluan tracer study mereka yang lulus sarjana kedokteran hewan atau lulus profesi sebagai dokter hewan?

A:
Kebetulan kami di ITB tidak ada kedokteran, tetapi kalau boleh berpendapat, mungkin bisa sekadar saran yang bisa jadi bahan pemikiran.
Intinya, kalau misalnya dari lulusan sarjana kedokteran tersebut lalu secara keseluruhan masuk ke pendidikan profesi, maka tracer study setelah pendidikan  profesi saya kira OK. Tetapi kalau dari setelah lulus ada yang tidak masuk ke pendidikan profesi, misalnya ada juga yang ke bank, atau profesi selain ke pendidikan profesi, lebih baik tracer study dari sejak setelah pendidikan sarjana. Justru bisa dilihat berapa yang akan meneruskan pendidikan profesi dengan berbagai latar belakang dan alasannya, dan berbagai variable pertanyaan spesifiknya, dan yang tidak meneruskannya juga seperti apa dan bagaimana. Protret itu menjadi sangat penting dan menarik untuk dikaji lebih lanjut sebagai feedback bagi institusi. Variable pertanyaannya selain yang baku, bisa didevelop hal-hal yang spesifik lagi sehingga bisa membaca potret lulusan dengan lebih baik.
Saya pernah atau beberapa kali mendapat pertanyaan, khususnya seperti dari UIN, kategori bidang kerja itu tentu harus banyak didevelop juga lebih jauh lagi yang spesifik, dan tidak ada dari core questioner yang ada. Misalnya jadi khatib, modin, muadzin, memandikan mayat dll. Itu juga sebuah profesi, yang mesti digali.

Moderator: Termasuk juga jadi provokator ?

Lanjutan A:
Satu hal yang penting, yang ini perlu dan sangat penting untuk disadari bahwa disparitas masing-masing perguruan tinggi kita ini dari Sabang sampai Merauke bedanya bisa kayak langit dan bumi hehehe.. (kidding), jadi sudah semestinya kita tidak memberlakukan Tracer Study itu disamakan baik secara sistem, pendekatan, hingga teknis, tahapan dan implementasinya.

Q8 (Mas Nurhadi ECC UGM):
Terkait TS, bagaimana hasil TS ITB yang sudah didapat diimplementasikan untuk perubahan kurikulum atau metode pembelajaran, dan sejauh mana pusat karir memantau implementasinya?

A:
TS itu saya lihat (pengalaman di ITB ya) belum tentu atau tidak serta merta hasilnya kemudian dengan cepat bisa mengubah, misalnya, kurikulum atau metode pembelajaran dan lain sebagainya Mas. Institusi yang sudah memiliki tradisi tersendiri yang sudah lama atau mengakar seperti ini tidak bisa begitu saja kemudian berubah. Namun semua pihak, baik skala individu (dari pejabat hingga rektor dan pegawai tendik, sivitas akademika, bahkan juga mahasiswa dan orang tua), maupun skala unit-unit kerja seperti unit penjaminan mutu, LP4 (Lembaga Pengkajian Pendidikan dst. itu) sangat membutuhkan data ini. Mereka sangat antusias dan appreciate. Dan tentu pengetahuan mereka semua tentang profil alumni dengan berbagai aspek-aspek penting yang ada semakin terbaca, feedback semakin nyata dan kalau ada hal-hal yang selama ini hanya berupa opini dari hasil TS bisa terbantah atau malah terkuatkan. Dan seterusnya.
Untuk mengukur seberapa besar pengaruhnya sementara ini tentu sangat sulit, tetapi pengaruhnya setidaknya tetap bisa dilihat skalanya, bisa dari individu, dosen, hingga unit. Misalnya setelah tahu protret lulusannya seperti itu lalu bagaimana saya mengajar, bagaimana memberi tugas dll., ada yang langsung merubahnya dalam skala individu. Sifatnya belum sampai menjadi policy secara institusional. Tetapi setidaknya masukan-masukan menjadi jauh lebih lengkap saat ini untuk berbagai langkah bagi penggembangan institusi, penyusunan kurikulum dan lain sebagainya. Meskipun perubahan tentu belum (akan) terlihat secara jelas, termasuk akreditasi, baik nasional maupun internasional, semua sudah enak sekarang tinggal mengolah dari data yang sudah masuk.
Oh iya, untuk mengisi borang akreditasi nasional, itu tidak cukup hanya mengandalkan tracer study, tetapi harus juga dengan survey kepuasan pengguna, karena di sana ada tabel-tabel yang terkait dengan itu.
Tambahan lagi sedikit, untuk akreditasi internasional di prodi arsitektur ITB menggunakan KAAB, dan sudah periode kedua, sekarang sudah beres, itu analisisnya harus lebih detil dari raw datanya, dan kita kategorikan lagi secara spesifik, tidak bisa pakai yang diformat dari indotrace saja. Kita mesti pilah-pilih lagi dan jadinya menjadi lebih spesifik dan sesuai kebutuhannya. Contoh kecil, di pendidikan  arsitektur itu penting yang berprofesi betul-betul sebagai desainer atau arsitek, tetapi kalau di kategori core questioner, yang ada itu hanya misalnya pekerjaan yang berhubungan dengan perencanaan dan konstruksi (misalnya). Jadi masih kurang atau tidak spefisik. Maka untuk akreditasi bidang-bidang tertentu skala internasional masih perlu pendetailan dalam analisisnya. Jadi kita harus buka raw datanya dan dikategorikan lagi (secara) tersendiri.

Q9 (Mas Ahmad Fahmi Universitas Negeri Malang):
Hasil tracer study diimplementasikan untuk perubahan kurikulum atau metode pembelajaran. BTW, Tracer study ada 2 responden, yaitu alumni dan perusahaan. Batasan yg diurai oleh Mas Bams itu baru alumni saja ya? Apakah bisa jika TS hanya alumni PT, tanpa TS pengguna perusahaan, utk perubahan kurikulum?

A:
Baik, saya coba jawab ya Mas Fahmi.
Kalau di kami (ITB) 2 responden itu kita bedakan. Dua-duanya kita selenggarakan dan berupaya semua tiap tahun. Yang satu disebut Tracer Study, yang kedua Survey Kepuasan Pengguna. Yang Tracer Study itu respondennya alumni, kalau Survey Kepuasan Pengguna itu respondennya ya pengguna alumni (misalnya Perusahaan). Jadi beda jauh. Meskipun beberapa variable pertanyaannya ada yang sama.
Dua hal itu saya lihat banyak yang masih confuse (bingung), termasuk di ITB sendiri. Padahal core questioner berbeda, system juga beda, dan yang lebih beda lagi adalah respondennya. Itu memang tugas kita untuk menjelaskan ini dengan baik di institusi kita masing-masing. Dan keduanya nanti bermanfaat dan diminta di borang akreditasi, baik untuk nasional maupun internasional.

Moderator: Untuk survey kepuasan pengguna, apakah respondennya populasi juga?

A:
Dari Kamis pekan kemarin memang masih banyak bicara tracer study, inipun sebetulnya belum banyak ya. Masih sedikit dari aspek Tracer Study yang dibahas, belum hal terkait secara detail (mengenai) metodologi, inovasi dan gagasan-gagasan hingga implementasinya. Mungkin video ini bisa membantu hal-hal yg awal dalam Tracer Study: https://youtu.be/4yQaw6v0uzU.
Disitu juga sedikit dijelaskan tentang beda tracer study denga survey kepuasan pengguna. Untuk laporan-laporan atau report, mulai tahun 2014 kita juga lengkapi beberapa (hal) terkait dengan metodologi dan implementasinya, silakan dibuka juga di sini (download for free??): https://karir.itb.ac.id/tracerstudy/report/report/index.
Tiap tahun kami buat report, dan bisa dilihat progress dan developmentnya. Monggo ??
Mbak Prof. Nun ternyata tanya ya.. hehehe.. Maaf. Kelewat..

Moderator: Moderator boleh nanya jg kan? ?

A:
Iya Mbak Nun, untuk Survey Kepuasan Pengguna itu respondennya populasi pengguna lulusan. Sebagai catatan, hal ini masih perlu diskusi panjang lebar. Supaya datanya semakin berkualitas. Tapi apapun itu, kita mesti bisa terus lakukan dan kita bisa terus develop supaya semakin baik. Kalau ini, Core Questioner kita pakai (kuesioner dari) Dikti (sekitar) tahun 2011.
Saya lupa menghubungi atau memberitahu Mas Hanson. Lain waktu Mas Hanson saya call dulu untuk bisa diskusi tentang hal ini, (sehingga) jadi menambah kaya wawasan, khususnya terkait analisisnya. Beliau dosen untuk mata kuliah metode riset kuantitatif. Mudah-mudahan beliau juga menyimak malah.

--bersambung--

*editor: Tutus Kusuma.
Reply


Possibly Related Threads...
Thread Author Replies Views Last Post
  Kulwap 28 Mei 2017: Hibah Tracer Study teddy.budiwan 0 4,118 28-May-2017, 04:46 PM
Last Post: teddy.budiwan
  Tentang tracer study tutus.kusuma 0 8,097 19-Jan-2016, 02:32 PM
Last Post: tutus.kusuma

Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon