• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
WhatsApp Group Discussion: Layanan Psikologi Karir (Agt.11.2016)

#1
Fasilitator: Dewiyani (CDC Un. Parahyangan), Teddy B. & Ira (Binus Career), Yanti R. (CDC Un. Padjajaran), Gita A. (ECC UGM)
Moderator: Tutus K.
Notulis: Prof. Nuni Gofar

[Image: attachment.php?aid=59]

[11/8 19:02] Tutus UGM: Selamat malam, Mas dan Mbak semua.
Di malam Jumat yang dahsyat ini kita akan kembali ngobrol-ngobrol bermutu, saling berbagi pengalaman dan pengetahun mengenai serba-serbi pusat karir dan pengelolaannya.
Tema kali ini adalah "Bagaimana pusat karir merangsang kecerdasan minat karir lulusan", yang tentunya akan berpengaruh kepada kesuksesan karir lulusan perguruan tinggi kita, dan pada masanya nanti akan membawa Indonesia kembali berjaya di kancah dunia internasional.

[11/8 19:02] Tutus UGM: Narasumber kita malam ini, luar biasa, adalah psikolog handal yang mendedikasikan waktu, tenaga dan pikirannya untuk pengembangan program-program pusat karir di masing-masing institusinya: 1) Mbak Dewiyani dari CDC Universitas Parahyangan; 2) & 3) Mas Teddy dan Mbak Ira dari Binus Career; 4) Mbak Yanti dari CDC Universitas Padjajaran; dan 5) Mbak Gita dari ECC UGM.

[11/8 19:03] Tutus UGM: Tema "kecerdasan minat karir" ini menjadi krusial, ketika dewasa ini mayoritas mahasiwa, kalau tidak boleh dibilang seluruhnya, akan kesulitan ketika menghadapi pertanyaan klise: setelah lulus mau jadi apa, mau kerja di mana, yakin nggak dengan pekerjaan tersebut, dan sebagainya. Berbeda ketika misalnya mereka ditanya: menurutmu apa sih kelebihan dan potensi kamu? Lalu, kekurangan apa yang kamu rasa ada pada dirimu? Pertanyaan semacam ini relatif akan lebih mudah dijawab dengan segera.
Kebingungan semacam ini yang masih ada pada mayoritas generasi masa depan kita, sehingga tentu menjadi masuk akal ketika sebuah lembaga survey menyatakan bahwa sepertiga lulusan perguruan tinggi Indonesia berpindah pekerjaan dalam 3 tahun pertama bekerja setelah lulus kuliah. Bahkan dua pertiga dari angka tersebut bisa berpindah pekerjaan lebih dari 3 kali! Hal ini sangat ironis, jika dibandingkan dengan tenaga kerja di negara Jepang, yang rata-rata bisa bertahan hingga 10 tahun dalam satu perusahaan. Lebih jauh, lembaga survey tadi memprediksi kalau Indonesia akan kehilangan sekitar 56% tenaga kerja kelas middle management pada tahun 2020 nanti. Nah!

[11/8 19:04] Tutus UGM: Sudah ada 5 pertanyaan yang masuk ke saya, dan nanti akan ditanggapi oleh para narasumber.
1) Pertanyaan pertama dari *Mbak Jessy Petra Career Center*: Mas titip buat diskusi besok malam dong. Jadi seringnya mahasiswa/calon lulusan di tempat kami bingung kalau mau cari kerjaan setelah lulus. Bukan karena ngga tahu maunya apa, tapi justru karena tahu maunya apa namun ortu tidak mengijinkan. Salah satu contoh kasus yang baru saya hadapi begini. Anak ini super kreatif. Bukan tipe pekerja yg harus duduk diblkg meja dan melakukan administrasi. Dia pengen kerja di industri kreatif macam brand consultant, advertising, tapi ortu tdk mengijinkan. Mereka lebih suka anak ini kerja di perusahaan2 besar yg udh punya nama. Macam: BCA, Wings Surya, dsb. Karena anak ini anak baik, dia merasa bakal jadi anak durhaka jika tdk menuruti permintaan ortunya. Akhirnya dia putusin utk melupakan keinginannya dan lebih menuruti keinginan ortu.

[11/8 19:05] Tutus UGM: 2) Pertanyaan kedua dari *Mas Elvy Rusmiyanto CDC Universitas Tanjungpura Pontianak*: Bagaimana memberikan motivasi dan inspirasi kepada mahasiswa agar memiliki karakter yang kuat dalam memasuki pendidikan tinggi, sehingga dapat menjadi spirit dan keyakinan akan masa depannya (terutama utk mhs di jurusan yang kurang favorit)?

[11/8 19:05] Tutus UGM: 3) Pertanyaan ketiga dari *Tutus Kusuma ECC UGM*: Di masa ekonomi serba tidak pasti seperti sekarang ini, banyak lulusan yang "asal" ngambil pekerjaan yang ada tanpa memahami perusahaan dan jenis pekerjaan yang dimasuki terlebih dahulu. Di sisi lain, tim rekrutmen perusahaan juga banyak yang "asal" menerima pelamar karena dikejar target pagu rekrutmen tahunan dan minimnya pelamar berkualitas (yang sesuai kriteria yang dicari) yang mengajukan lamaran. Bagaimana strategi jitu pusat karir untuk mengatasi hal ini?

[11/8 19:06] Tutus UGM: 4) Pertanyaan keempat dari *Mbak Nuni Gofar CDC Unsri dan Mas Epy Luqman PPKK Unair*: Sebetulnya setiap kita buka di web jadwal pelatihan, kuota peserta segera penuh. Namun pada kenyataan di hari H nya jumlah yg hadir lebih kurang hanya setengah dari yg mendaftar. Pernah sih saya tanyakan, alasannya ada tugas ada kuliah ada macem2 lah.. 
Nah, krn tidak hanya terjadi di Unsri, juga terjadi di Unair (belum sempat bertanya ke PT lain), apakah karakter ini memang karakter anak jaman sekarang? Bagaimana caranya menumbuhkan kesadaran mahasiswa untuk mengikuti pelatihan dan bertanggung jawab menghadiri pelatihan krn sudah mendaftar? (Kan gak ketemu sama anak2nya krn mereka mendaftar online ?).

[11/8 19:07] Tutus UGM: 5) Pertanyaan kelima dari *Mbak Adjeng Erwita Petra Career Center*: Mas dan Mbak, numpang minta di share kan singkat aja. Sampai sejauh mana fasilitas yg diberikan oleh univ kepada perusahaan utk bisa mengakses kompetensi mhsw dan alumni di univ mas dan mbak. Apakah cukup dengan campus recruitment atau ada trick lain? Mohon pencerahan..(Mohon maaf sebelumnya, kalau misalnya hal ini pernah dibahas, tapi sayanya nggak notice ??)

[11/8 19:08] Tutus UGM: Kita berikan kesempatan kepada para narasumber untuk memaparkan tanggapannya terlebih dahulu ya. Mas dan Mbak silakan menanggapi jika ada hal yang mau ditanyakan terkait dengan penjelasan narasumber.*silakan aktifkan WhatsApp Web untuk bisa mengikuti diskusi dengan lebih jelas dan nyaman
Mbak Dewi, silakan menanggapi terlebih dahulu. Mangga.

[11/8 19:10] Sumanto ITN MALANG: Saya juga bertanya,,,,
Kami ingin program2 pk dapat brjalan dg baik, akan tetapi tdk ada dukungan dari pt (dana), bagaimna kami bsa menjalankan prgram2 pk, misalkan mau ngadakan platihan softskill atau apalah, kan butuh dana, apa etis pesrta (mhs) harus byar, mohon pencerahan,

[11/8 19:11] ‪+62 856-2922-816‬: Malam mas dan mba.. 
Saya akan mencoba menanggapi..
Pertanyaan 1

Jika kasus individual, sebaiknya melakukan pendekatan dengan konseling terhadap orang tua, seperti menyebutkan untung dan rugi jika si anak tetap bekerja menurut kemauan orang tua ataupun jika si anak bekerja sesuai kemampuan/passion. Selain itu juga melakukan pendekatan dengan si anak agar mengetahui kemampuan, passion si anak. Berawal dari konseling ini akan berlanjut ke sesi mediasi “penjembatani antara anak dan orang tua” sehingga dapat dicari jalan tengah dan menemukan solusinya.

Jika klasikal, dapat dibuat mengenai seminar/pelatihan parenting seperti bagaimana mengenali potensi anak. Seminar ini dapat diinfokan ketika di awal mahasiswa masuk kuliah.

[11/8 19:12] Tutus UGM: Hemm... pendekatan ke orang tua ya Mbak. Apakah masih relevan untuk mahasiswa Mbak Ira?

[11/8 19:12] ‪+62 856-2922-816‬: Pertanyaan 3

Perusahaan dapat melakukan branding kepada mahasiswa sejak masih kuliah seperti seminar, campus talk, workshop. Untuk pembahasan dapat dilihat dari sisi HR perusahaan atau tips dan trick proses seleksi.

Selain itu pihak karir juga melakukan kesesuaian antara posisi, job desc dengan jurusan yang tersedia di kampus sehingga penyebaran informasi tepat sasaran. Biasanya kalo di binus ada newsletter setiap minggu.

Menjadi penengah antara jurusan dengan perusahaan sehingga mereka dapat berdiskusi langsung tentang apa yang dibutuhkan, kriteria bagaimana, apa yang sedang jadi tren. Contohnya kita membuat industrial gathering dengan mengundang perusahaan dan jurusan-jurusan.

[11/8 19:13] Dewi Unpar: Selamat malam mas dan mbak sekalian..perkenalkan saya Dewiyani dari Unpar Bandung..saya akan langsung saja mulai menjawab beberapa pertanyaan yg masuk ya..jawaban2 ini adalah pengalaman yg memang saya alami selama saya mendampingi mahasiswa dan saya memang akan banyak mengambil sudut pandang Psikologi krn itu bidang yang saya geluti..
Pertama : Satu hal yang selalu saya tanamkan bagi mahasiswa adalah bagaimana mereka "mantap" menjadi dirinya sendiri, dalam arti ketika mereka harus menyatakan apa pilihan hidupnya, mereka dapat menyatakan dengan kelegaan hati dan tidak terbebani rasa bersalah. Nah pilihan karir yg harus sesuai ortu memang menjadi konflik besar bagi mahasiswa2 yg ingin belajar mandiri dan menentukan pilihan, apalagi ketika dihadapkan doktrin anak durhaka bila tdk patuh. Kami biasanya melakukan konseling untuk membuat anak itu menjadi pribadi yg mampu utk menyatakan pendapat tanpa merasa berdosa, krn pendapat itu disampaikan bukan utk berada di pihak yg bertentangan tapi pilihan yg memang didasari pertimbangan2 yg matang. Oleh krn itu : bagaimana seseorang mampu mempertimbangkan sesuatu dengan matang tanpa emosional, itulah yg dibimbing. Lalu juga membimbing mereka utk bagaimana mengenali karakter ortu agar bisa menyampaikan pilihan dengan cara yg tdk agresif dan emosional, krn dengan cara yg tdk agresif maka sebenarnya secara tdk langsung, seseorang menunjukan dirinya tdk emosional dan penuh pertimbangan yg masak. Semoga dengan hal itu maka ortu akan lebih mudah memahami.

[11/8 19:13] ‪+62 857-2894-0930‬: Saya coba tanggapi pertanyaan dr Mbak Nuni & Mas Epy dulu ya. Saya biasanya membagi cara menangani kasus ini jd 2 mbak,mas: (1) kesesuaian materi dg kebutuhan, (2) efektivitas bahasa dalam media promosi. Pelatihan yg diadakan sesuai dg kebutuhan mereka biasanya lebih menarik, aplg kalau gratis. Tp sygnya memang yg kebanyakan butuh ini sudah mahasiswa tingkat akhir atau bhkan sudah lulus. Kl dari pengalaman, training mengenai job hunting preparation(JHP) akan lebih banyak peminat dibanding training motivasi/kerjasama yg sasarannya mahasiswa. Untuk mahasiswa di thp semester awal-tengah memang butuh treatment khusus
Kedua, inilah peran penting penggunaan bahasa promosi. Judul training perlu dipikirkan & disesuaikan dg usia mereka. Di media promosi juga disebutkan manfaat atau apa yg akan mereka dapatkan setelah mengikuti training ini.
Kalau dibilang karakter, saya belum berani mengiyakan krna tidak punya data yg riil. Tetapi dari training yg selama ini saya lakukan, tingkat kehadiran peserta yg mendaftar training gratis memang hanya berkisar 35-50%. Memang dg tidak mengeluarkan apapun tanggung jawab & rasa keterikatan utk mengikuti kegiatan cenderung tidak kuat.

[11/8 19:13] ‪+62 856-2922-816‬: Pertanyaan ke 4

Sebenarnya tidak semua mahasiswa tidak peduli dengan seminar, workshop. Hal ini bergantung dari culture di masing-masing universitas.

Hal ini juga terjadi di binus. Banyak yang daftar ternyata yang datang hanya 40-50% dari pendaftar. Cara untuk mengantisipasinya di binus adalah dengan membuka pendaftaran dua kali lipat dari seat yang ada. Selain itu adanya pemberian poin SAT (Student Activity Transkrip) agar mahasiswa mau menghadiri seminar, workshop. Selain itu sertifikat tersebut juga menjadi salah satu persyaratan dalam pengumpulan hardcover skripsi. Dengan kata lain universitas harus membuat aturan yang secara tidak langsung akan memaksa mahasiswa untuk mengikuti seminar.

[11/8 19:17] Tutus UGM: Pendekatan Mbak Dewi lebih pada penguatan karakter dan pribadi mahasiswa ya.... Apakah terukur dan terevaluasi Mbak Dewi?

[11/8 19:19] Tutus UGM: Newsletter... Ini menarik. Bagi mahasiswa saja atau juga ada newsletter khusus untuk perusahaan Mbak Ira?

[11/8 19:20] Yanti Rubiyanti UNPAD: Saya Yanti, saya coba menjawab pertanyaannya mas Elvi : Bagaimana memberikan motivasi dan inspirasi kepada mahasiswa agar memiliki karakter yang kuat dalam memasuki pendidikan tinggi, sehingga dapat menjadi spirit dan keyakinan akan masa depannya (terutama utk mhs di jurusan yang kurang favorit)? Pertama mahasiswa diajak untuk memiliki mimpi/dream di masa depannya. Dalam istilah psikologi dia harus memiliki tujuan hidupnya menjadi sosok yang seperti apa. Bisa juga dibekali nilai spiritual misalnya bahwa hidup kita hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok lebih baik dari hari ini. Dream ini yang akan menjadi bahan bakar motivasi. Dengan memiliki motivasi mahasiswa akan terdorong untuk mencapai tujuannya. Berikutnya adalah bagaimana merencanakan tujuan, dengan membuat list rencana tindakan dan PR PR maupun tugas tugas yang diberikan di kampus yang diarahkan semuanya pada tujuan yang hendak dicapai tadi, lalu yang terakhir ada proses evaluasi. Selain motivasi, diperlukan apa lagi:
(1) mengenali minat
(2) mengenali kekuatan dan kelemahan diri
(3) rumusan tujuan yang spesifik
(4) mengenali faktor lingkungan yang mendukung pencapaian cita-cita
(5) langkah yang bertahap, terpantau, dan terukur

[11/8 19:21] ‪+62 856-2922-816‬: mas tutus, untuk pendekatan ke orang tua masih dapat dilakukan bagi mahasiswa, apalagi di binus. karena beberapa kasus di binus seringkali si anak tidak diperbolehkan bekerja di perusahaan X karena bukan perusahaan besar, lokasi jauh. padahal minat si anak di situ. oleh karena itu seperti yang sebelumnya saya bilang bahwa hal ini disesuaikan dengan culture di universitas tersebut.

[11/8 19:21] Tutus UGM: Mbak Gita, apakah dengan data tersebut bisa disimpulkan kalau event gratis cenderung tidak menarik bagi angkatan muda sekarang?

[11/8 19:21] Yanti Rubiyanti UNPAD: 3 komponen yang tadi : Penetapan tujuan, Perencanaan dan Evaluasi itu yang kemarin yanti sebut sebagai orientasi masa depan.

[11/8 19:22] ‪+62 856-2922-816‬: newsletter akan diberikan kepada mahasiswa yang akan lulus pada periode tahun tersebut, dan beberapa tahun sebelumnya.

[11/8 19:22] Tutus UGM: Catatan dari Binus: jumlah seat di'mark-up' dulu, dan ada rekam jejak dalam SAT.

[11/8 19:22] Yanti Rubiyanti UNPAD: Dalam menetapkan tujuan penting kita memiliki metode, salah satu metode yang bisa digunakan adalah : Spesifik
Measurable
Attainable/Achievable
Relevant
Time constraints

[11/8 19:24] Tutus UGM: Pendekatannya melalui event massal semacam seminar, workshop atau akan lebih efektif jika secara personal semacam mentoring, Mbak Yanti?

[11/8 19:25] Yanti Rubiyanti UNPAD: Untuk mahasiswa mahasiswa dengan jurusan tidak favorit, maka kita sebagai orang tua atau dosen perlu mengencourage mahasiswa untuk lebih percaya diri dengan jurusan yang ditekuninya. Caranya dengan mengubah paradigma dirinya bahwa ada kompetensi yang sangat dibutuhkan dari mahasiswa oleh user, oleh karenanya dia harus diajak untuk menggali terus sekiranya apa kompetensi spesial dia sehingga menjadi seorang specialis atau expert di bidang yang ditekuninya

[11/8 19:25] Dewi Unpar: Betul mas Tutus, lebih pada penguatan karakter..utk evaluasinya kami biasa minta testimoni mereka setelah mereka bekerja...atau melakukan pilihannya

[11/8 19:25] Yanti Rubiyanti UNPAD: Mas Tutus, saya pernah lakukan secara masal, personal dan small grou

[11/8 19:26] Yanti Rubiyanti UNPAD: Hal yang penting juga, ada testimoni dari teman atau kakak kelasnya yang sudah berhasil di bidang mereka untuk sharing pengalaman, biasanya ini lebih mengena karena dari pemikiran teman sebaya

[11/8 19:27] Nuni Gofar: Catatan dari Binus: jumlah seat di'mark-up' dulu, dan ada rekam jejak dalam SAT.

[11/8 19:27] ‪+62 857-2894-0930‬: Saya tanggapi pertanyaan Mas Elvy Rusmiyanto CDC Universitas Tanjungpura Pontianak: 
Bagaimana memberikan motivasi dan inspirasi kepada mahasiswa agar memiliki karakter yang kuat dalam memasuki pendidikan tinggi, sehingga dapat menjadi spirit dan keyakinan akan masa depannya (terutama utk mhs di jurusan yang kurang favorit)?Ini memang cukup sering terjadi pada mahasiswa yg merasa jurusannya kurang favorit. Sbenarnya ketika mahasiswa merasa kurang yakin/bahkan tidak terlalu memikirkan masa depan, artinya belum punya *role model & informasi yg kuat* sebagai bekal karir. Salah satu cara untuk membuat mahasiswa aware bahwa jurusannya pun bisa sukses adalah dg menggandeng alumni. Alumni yg telah bekerja bisa diundang untuk sharing & berbagi pengalaman termasuk tips sukses di depan adik2 tingkatnya. Dg bgini mahasiswa akan mendapat gambaran konkret & contoh hidup yg benar2 nyata.
Sharing informasi mengenai dunia kerja dari orang yg terjun langsung di bidangnya juga bisa jd bekal informasi untuk mahasiswa.

[11/8 19:28] Yanti Rubiyanti UNPAD: testimoni kakak kelas akan menjadi inspirasi buat mahasisw (adik adiknya)

[11/8 19:28] Tutus UGM: Maksudnya tanggapan kegiatan konseling untuk orang tua bagi level mahasiswa, apakah mereka tidak keberatan jika masih melibatkan orang tua, Mbak? Ini menarik karena di beberpa perti, mayoritas orang tua justru "pasrah bongkokan" kalau anaknya sudah kuliah. Begitu pula sebaliknya, mahasiswa akan cenderung "sok" mandiri.

[11/8 19:28] ‪+62 856-2922-816‬: setuju dengan mba yanti.. diperlukan kerja sama antara pusat karir, orang tua dan jurusan untuk memotivasi mahasiswa. selain itu sering diadakan sharing session dengan alumni yang sudah dianggap berhasil, biasanya akan lebih kena pada diri mahasiswa.

[11/8 19:29] Nuni Gofar: Itu sudah kami lakukan mbak. Memang sih kalau sekedar memenuhi seat saat registrasipun bisa dipenuhi oleh mahasiswa. "kelakuan" mendaftar tapi tidak hadir itu yg membuat saya resah mbak.

[11/8 19:29] Elvi Untan: Istilah di kami PPEPP=penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian dan peningkatan.

[11/8 19:29] Yanti Rubiyanti UNPAD: Sampaikan juga ke mahasiswa bahwa ada faktor eksternal yang juga berpengaruh terhadap keberhasilannya selaian faktor internal... Internal :
Tujuan hidup 
kebutuhan
motivasi internal (dorongan untuk melakukan sesuatu dari dalam diri)
pengalaman 
pengetahuan 
Kesadaran….

Eksternal :
Lingkungan; keluarga, sekolah, masyarakat dll

[11/8 19:30] Yanti Rubiyanti UNPAD: iya mas Elvi secara konsep mirip..

[11/8 19:30] Yanti Rubiyanti UNPAD: kalau saya menggunakan kerangka dari Nurmi dan Seginer.. selain 3 hal tadi merupakan kompenen, dia juga proses yang me siklus

[11/8 19:31] Tutus UGM: Nah, lalu sejauh mana, atau sampai level mana si anak harus meningkatkan kompetensinya, Mbak Yanti? Apakah ada benchmark atau "sosok acuan" tertentu yang bisa dijadikan panduan?

[11/8 19:31] Dewi Unpar: Di Unpar ortu masih datang mas..masih terlibat

[11/8 19:31] Dewi Unpar: Utk konseling thd org tua, terbatas pada yg merasa membutuhkannya, atau pada kasus2 yg berat..biasa mereka dikirimkan oleh prodi2..

[11/8 19:31] Dewi Unpar: Menjawab pertanyaan kedua : bagaimana membuat seseorang mahasiswa memiliki keyakinan, bukanlah dengan cara memaksanya untuk yakin...tapi mengajak mereka mengeksplorasi dirinya, menemukan kekuatan yg bisa menjadi andalannya dan itulah yg nanti otomatis mendongkrak keyakinannya.  Terutama bila mereka masuk jurusan yg tdk favorit. Mereka dibimbing utk menemukan kekuatan lain dalam dirinya, krn sesuatu yg muncul dari dalam diri itu lebih kuat utk survive di tempat kerja.

[11/8 19:32] Yanti Rubiyanti UNPAD: Sosok acuan bisa digali dari mereka bisa juga tokoh yang kita munculkan yang mewakili tokoh sukses dibidangnya... misalnya CC kita contohkan mas Bams dan Mbak Nuni...

[11/8 19:33] ‪+62 857-2894-0930‬: Tergantung konten mas. Workshop gratis pun pernah didatangi hingga 200 org, ketika itu sesuai dg 
kebutuhan/tema yg diangkat sesuai tren karir skrg. Itulah pentingnya slalu ada data/gmbaran riil problem mahasiswa skrg.

[11/8 19:33] Elvi Untan: Mbak Yanti, hampir setiap tahun ada beberapa mahasiswa kami yang keluar, dengan berbagai....tapi secara umum mereka pesimis masuk di jurusan.

[11/8 19:33] Tutus UGM: Mbak Gita, berarti peran alumni masih sangat dibutuhkan bagi institusi perti dan pusat karir ya Mbak? Tidak hanya pas tracer study saja ?

[11/8 19:33] Nuni Gofar: Mbak Dewi, saya sdh terbiasa krn jurusanku bukan jurusan favorit ?. Jadi di awal perkuliahan harus cerita dulu apa itu ilmu tanah dan masa depannya

[11/8 19:34] Yanti Rubiyanti UNPAD: lalu mahasiswa diminta menggali atau meng eksploraasi aspek dari diri (kelebihan dan kekuatan) yang dimiliki tokoh atau sosok acuan yang dimunculkan mahasiswa tadi supaya mereka bisa insight dengan karakter karakter pemicu kesuksesan seseorang

[11/8 19:35] Tutus UGM: Yap, testimoni atau sharing session. Apakaj di Unpad ada event rutin semacam ini Mbak Yanti?

[11/8 19:35] Yanti Rubiyanti UNPAD: setelah itu mahasiswa diajak untuk menggali kelebihannya dengan cara mengingat peristiwa dia pernah sukses dalam bidang pendidikan .ini basicnya dari Positive Psychology

[11/8 19:35] ‪+62 857-2894-0930‬: Betul skali mas, justru syg kalau alumni hanya digiatkan utk tracer study. Sbenarnya para alumni ini saya yakin jg bangga ketika diberi kesempatan berbicara di depan adik2nya. Dan impactnya akan kena ke 3 pihak: mahasiswa,alumni itu sndiri, & jurusan

[11/8 19:35] ‪+62 856-2922-816‬: mba nuni, sebenarnya itu hal yang sama diresahkan di binus. selain kita membuat seminar, workshop sendiri. kita juga sering memasukkan materi career development ke dalam mata kuliah tertentu di jurusan (masuk jadwal perkuliahan)

[11/8 19:35] Nuni Gofar: Yupp.. setuju mbak Gita.. itu yg kami lakukan.. menggandeng alumni yg sukses sejak awal pengenalan kampus, akan meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa

[11/8 19:36] Yanti Rubiyanti UNPAD: mas Elvi emangnya jurusan apa yah? mahasiswa keluar karena kurang berminat pada jurusan tersebut  karena prestasi rendah dan tidak mendukung

[11/8 19:36] Dewi Unpar: Iya mbak Nun, itu jg sangat membantu utk membuat mereka mengetahui jurusannya ya..

[11/8 19:36] Tutus UGM: Bisa dijadikan P5 itu Mas Elvi, evaluasinya diganti pengujian ?

[11/8 19:37] Elvi Untan: Itu yang belum kami lakukan....ya...alumni yang berhasil

[11/8 19:37] Nuni Gofar: Gak boleh mbak.. itu sudaj bahasanya "orang Mutu". Hehehe... mas Elvi selain di PK jg aktif di QA

[11/8 19:38] Tutus UGM: Bisa dijelaskan secara singkat apa iti Nurmi dan Seginer Mbak?

[11/8 19:38] Yanti Rubiyanti UNPAD: Mas Tutus, saya orang baru di CC atau CDC Unpad.. akan tetapi metode yang saya sharingkan tadi saya banyak coba saat saya menjabat Kepala P2K2M jabatan pengganti Pembantu Dekan 3 saat ada SOTK baru di unpad

[11/8 19:39] Tutus UGM: Ini jadi salah satu program kerja di CDC juga Mbak Dewi? Atau ada BK khusus yang menanganinya?

[11/8 19:40] Tutus UGM: Biasanya apa yang bisa dilakukan untuk mendapatkN data riil tersebut Mbak?

[11/8 19:40] ‪+62 895-3340-17034‬: Info tambahan: di unhas pada setiap penerimaan maba ada kuliah umum tentang perencanaan masa depan (?) dari phsycolognya... Tlng di kontak bang Cido PR 3 untuk menjelaskan...

[11/8 19:41] Tutus UGM: Mas Wir, catatan nih... Jangan mendekati almuni hanya ketika akan tracer study saja ya... ?

[11/8 19:42] ‪+62 856-2922-816‬: mata kuliah perencanaan masa depan? dulu zaman saya kuliah belum pernah dapat mas.

[11/8 19:42] Dewi Unpar: Kalau di Unpar, program Psikotes dan Konseling Karir menjadi salah satu program yg ditangani khusus mas Tutus

[11/8 19:43] Yanti Rubiyanti UNPAD: Nurmi memperkenalkan konsep Future Orientation : Future orientation is individual orientation of adolescence in future context. It will become a guidance to achieve systematic changes to accomplish their goal (Nurmi 1991)

[11/8 19:43] Jessi UK Petra: SAT Binus ini mirip dgn SKKK (Satuan Kredit Kegiatan Kemahasiswaan) di UK Petra. Di Petra bahkan SKKK nya dibagi lagi menjadi bbrp bagian: penalaran, bakat minat, organisasi dan pengabdian masyarakat. Masing2 bagian harus ada minimal poin yg diperoleh. Ini memang jadi memaksa mahasiswa utk ikut berbagai variasi kegiatan di kampus.

[11/8 19:45] Yanti Rubiyanti UNPAD: mahasiswa secara tahap perkembangannya bisa masuk dalam remaja akhir atau dewasa awal...

[11/8 19:48] Yanti Rubiyanti UNPAD: orientasi masa depan mempunyai 3 area... pendidikan, karir dan pekerjaan dan pernikahan.. kemarin waktu di Jepangsaya presentasi paper dengan judul "Will You Marry Me?“ Study about Influence of Status in Relationship to Future Orientation on Mariage Area in College Students

[11/8 19:48] ‪+62 856-2922-816‬: mba jessi untuk sementara memang dinilai efektif dengan pemberlakuan poin SAT. hal ini juga menjadi syarat untuk dapat mendaftar sidang sebanyak 120

[11/8 19:50] Tutus UGM: Intinya bagaimana itu Mbak? Mengajak mahasiswa untuk mempersiapkan karir agar layak menjadi calon mantu ya Mbak?

[11/8 19:50] Jessi UK Petra: Mas Tutus, tapi sistem itu makro. Dari universitas. Sedikitnya memang pcc jadi terbantu dapat peserta karena peserta akan dapat poin ketika mengikuti kegiatan. Tapi saya setuju dengan mas/mbak diatas (saking banyaknya saya jadi bingung hahaha) kalau kegiatan PK utk mahasiswa harus dikemas menarik sesuai dengan interestnya mahasiswa.

[11/8 19:51] Yanti Rubiyanti UNPAD: Mas Elvi.. selanjutnya mahasiswa diajak untuk berani berkompetisi... caranya bisa juga dimulai di kelas.. misalnya di buat gang gang yang didorong lulus barengan di tahun yang sama dengan IPK tinggi

[11/8 19:51] ‪+62 856-2922-816‬: Menambahi dengan mba Jessie, selain itu PK juga dapat bekerja sama dengan UKM atau himpunan mahasiswa sehingga dapat langsung kena sasaran.

[11/8 19:52] Rini PJK USU: Ternyata masalah CC d mana2 sama ya .. Kita care tapi mhsw dan alumni cuek .. Dan makin hari kualitas mhsw makin gak jelas .. Hny pengen cepet tamat ip tinggi hbs tamat buat semak .. Kalo ada tes rame yg ikut trus yg keterima perush gk sampe 10% .. Sebenernya yg salah sapa ya mas mbak narasumber ...

[11/8 19:52] Yanti Rubiyanti UNPAD: saya biasanya ketika menerima dan memberi sambutan pada mahasiswa baru saya sapa mereka dengan S. Psi di 2016 misalnya saat maba angkatan 2012

[11/8 19:53] Fahmi UNM: He.he.he.
Hamba mantau terus kok mbk yanti

Di UM akan menerapkan SAT, habis meguru ke ITS &U Unair. Klo gak diwaajibkan,mhs akan apatis & cuek thd kegiatan ekkstra kulikuler.

[11/8 19:54] Yanti Rubiyanti UNPAD: Ternyata masalah CC d mana2 sama ya .. Kita care tapi mhsw dan alumni cuek .. Dan makin hari kualitas mhsw makin gak jelas .. Hny pengen cepet tamat ip tinggi hbs tamat buat semak .. Kalo ada tes rame yg ikut trus yg keterima perush gk sampe 10% .. Sebenernya yg salah sapa ya mas mbak narasumber >>>> ini persis tadi kejadian waktu yanti naik travel bertemu dengan mahasiswa nya Mbak Dewi.. dia cerita kuliah itu yang penting lulus dan IPK tinggi

[11/8 19:54] Fahmi UNM: ITS gak punya psikologi,tp aktif kok mas ary

[11/8 19:56] ‪+62 856-2922-816‬: mba yanti yang penting lulus dan IPK tinggi jadi inget zaman saya kuliah??

[11/8 19:56] Rini PJK USU: Apa salah pola penerimaan mhsw ya .. Yg keterima jd mhsw hny pengen jd mhsw hehehehe gak ngerti karir

[11/8 19:56] Elvi Untan: Instrumen untuk mengetahui minat dan passion, bagaimana mbak.

[11/8 19:56] Sukmalesmana UMSU: Kalo gak ada fakultas psikolog kita bisa hire psikolog spt di tempat kami

[11/8 19:57] Tutus UGM: Wah, ini yang disebut thinking out of the box. Di mana-mana genk dijauhi, Mbak Yanti malah menyuruh bikin... ?

[11/8 19:57] Sukmalesmana UMSU: Bahkan psikolog dari luar dibuatkan lembaga resmi pusat bimbingan konseling

[11/8 19:59] Rini PJK USU: USU punya semua .. Fak psikologi .. Bimbingan konseling .. Tp mhsw merasa waras smua heheheh

[11/8 20:00] ‪+62 856-2922-816‬: Menambahi mba yanti, mahasiswa yang hanya menjadi finalis dari perlombaan tertentu juga bisa di masukkan menjadi poin sat

[11/8 20:00] Tutus UGM: Makanya kita di sini berdiskusi untuk mencari solusi terbaik Mbak Rini.

[11/8 20:00] Nuni Gofar: Bagi mereka yg penting keterima jadi mahasiswa dl mbak Rin... terus yg penting lulus dg IPK tinggi.. lantas setelah lulus? Fenomena baru sekarang ini mereka lanjut S2. Tadi saya tanya anak2 S2 ini jg masih bingung. Katanya supaya lebih mudah mendapat kerja. Terus dilanjutka  pertanyaannya kerja apa? Masih binun... stop deh pertanyaannya.. (takut kl dilanjutkan mereka berhenti kuliah dan saya diminta pertangungjawaban oleh kaprodinya.. hahahahaha)

[11/8 20:02] Sumanto ITN MALANG: Ini yg banyak trjadi shg kalau respondennya sdikit yaaa resiko krn kita pk tdk mnyiapkan mreka, klau kita mnyiapkan mrekA dan mencrikan krja bgnya, mk mrka akn mrasa hutang budi pd pk, hsilnya responden akan tinggi

[11/8 20:04] Rini PJK USU: Bener mbak nuni .. Ini sy sambil mengawas ujian akhir semester ank2 MM yg saat sy kuliah d MM jd prodi andalan usu krn yg kuliah disini ber gengsi .. Skr ank2 baru tamat pun masuk MM .. Hny mengulur waktu mendpt julukan pengangguran .. Kita yg ngajar pun pusing .. Makin jd MM makin payah lah dpt krj wong goal karirnya gak jelas

[11/8 20:04] Tutus UGM: Itu siklus berulang Mbak Nun. Ketika mencari kerja juga nanti "yang penting dapat kerja dulu". Yang terjadi kemudian adalah baru 3 bulan sudah resign..

[11/8 20:05] ‪+62 856-2922-816‬: Untuk poin SAT di binus dibagi menjadi 3 kategori yaitu FEP (Freshment Enrichment Program) atau bisa disebut OSPEK, Seminar/workshop/pelatihan/community Services, dan terakhir kompetisi. untuk masing-masing sudah ada nilai dari level binus, kota/kabupaten hingga internasional

[11/8 20:05] Nuni Gofar: Nah... dari penjelasan mbak Rini dan mas Tutus... kita harus mencari akar masalahnya. Kl menurutku sih akar masalahnya bukan di perguruan tinggi, tp di sekplah menengah

[11/8 20:05] Yanti Rubiyanti UNPAD: "yang penting dapat kerja dulu". mas Tutus konon katanya statement ini dalam rangka mencari batu loncatan sebelum mendapatkan pekerjaan yang benar benar sesuai dengan mereka

[11/8 20:06] Rini PJK USU: Mending 3 bulan resign mas ... Ada yg lebih parah .. Ikut tes sbg uji coba .. Klo d tempatkan d kalimantan trus nolak .. Yg penting udh buktikan bhw bisa lulus diterima kerja hikzzz hajab dehh .. Perush pun pusing

[11/8 20:08] Jessi UK Petra: Iya benar di Petra jg demikian. Kemudian ditangani WR Bid Kemahasiswaan.

[11/8 20:08] ‪+62 895-3340-17034‬: Saya 2012 pernah mengirim 60 alumni ke tambak di lampung, sampai disana 6 bulan pada ikut demo??

[11/8 20:08] Rini PJK USU: Mbak nuni ... Klo d ulur2 bisa TK nya yg salah .. Hehheehe kurang banyak bermain ... Jd udh tua baru main2

[11/8 20:08] Yanti Rubiyanti UNPAD: Sebenarnya secara eksternal juga mendukung mengapa para lulusan berpikir asal kerja dulu trus resign, karena lingkungan di luar juga sering kali bertanya pada mereka saat mereka sudah lulus dan menjadi sarjana atau master.. pertanyaannya, kerja dimana? kapan menikah? kalau menikah misalnya dianggap lebih susah ya sudah bekerja dulu meskipun  asal bekerja

[11/8 20:09] Nuni Gofar: Hahahaha... iya betul.. tk udah disuruh baca tulis sih

[11/8 20:09] ‪+62 856-2922-816‬: Terlebih lagi adanya tekanan dari orang tua

[11/8 20:09] Yanti Rubiyanti UNPAD: mbak Rini, tapi bagaimana pun juga, mahasiswa begitu menjadi mahasiswa baru mereka adalah tanggung jawa PT ma kurang bermain saat TK nya juga

[11/8 20:10] Yanti Rubiyanti UNPAD: meskipun mereka kurang bermain saat TK hahahah

[11/8 20:11] Rini PJK USU: Kesimpulan nya .. Mhsw udah se dewasa itu pada belum tau siapa dirinya .. Di tambah lingkungan memaksa mereka tidak menjadi dirinya ... Wezz makin amburadul ... Sabar la kita yg d PK ..

[11/8 20:12] Jessi UK Petra: Anaknya mantap sih, tapi mungkin sudah beberapa kali mencoba berdiskusi dgn ortu tetap tidak ketemu akhir dia mengalah. Dan mahasiswa seperti ini ngga cuma 1 atau 2. Terkadang masalahnya karena ortu pengen anaknya ngga pindah ke kota lain. Apalagi luar pulau. Ada juga yang merasa rumahnya di daerah timur tapi dapet kerjaannya di daerah barat. Ngga boleh jg sama ortu. Repot juga ya. PK perlu bikin seminar parenting khusus apa ya. Bukan saat jadi maba, tapi seminar parenting utk ortu calon lulusan. ??

[11/8 20:12] ‪+62 812-7227-7769‬: Mungkin yg pas mahasiswa diajarkan berkarya bukan bekerja. Kira kira begitu gk ya?

[11/8 20:14] Yanti Rubiyanti UNPAD: mbak Rini,, saya pernah iseng ke mahasiswa,,  mau ujian nanya,  "mbak Yanti besok ujian pakai baju apa?" jadi saya jawab  bajunya harus sama, atasa putih bawahan hitam, laki laki pakai dasi perempuan pakai high heels... terus jadilah mereka ujian pakai baju sama hahahhaa...

[11/8 20:14] Yanti Rubiyanti UNPAD: mahasiswa segala gala ditanyakan,, kesannya kok malas mikir... mau ujian, nanya , pakai pulpen atau pensil?

[11/8 20:15] Teddy Binus: Saya ingin coba mengusulkan satu ide alternatif ya, mahasiswa punya tugas perkembangan yang krusial, berpindah dari remaja ke dewasa. Jadi menentukan keputusan sendiri, berargumen dan menentukan pilihan karir, itu semua ada juga terletak di dalam tugas perkembangan tersebut. Di lain pihak, karyawan seperti saya dan Mba Ira berada di unit yang bertanggung jawab untuk perubahan mahasiswa secara sistemik.

[11/8 20:15] Teddy Binus: Ada beberapa perilaku yang bisa kita paksakan yang akhirnya dapat mendorong mahasiswa untuk "terpaksa" menjadi lebih dewasa.

[11/8 20:15] Dewi Unpar: Proses mengalami buat kami sangat penting

[11/8 20:15] Dewi Unpar: Utk pertanyaan mas Tutus, pertanyaan ketiga, utk lulusan Unpar sih saat ini mereka justru sangat pilih2 pekerjaan, bukan asal ngambil..itu yg kadang saya pikir ada baiknya tapi juga ada kurang baiknya krn mereka tidak berani memulai. Padahal jarang sekali pekerjaan pertama itu adalah sesuatu yg ideal sesuai harapan. Justru sebaliknya kami sangat menyarankan mereka utk berani mencoba bekerja, mengalami dan akhirnya menemukan pekerjaan apa yg cocok baginya

[11/8 20:15] Tutus UGM: Mas dan Mbak narasumber, masalah yang diungkapkan Mbak Rini dan Mbak Nuni benar, dan akan menjadi lingkaran setan jika semua pihak merasa sudah bertindak maksimal, tidak akan ada solusi. Kampus mempertanyakan kualitas lulusan sekolah menengah, perusahaan mempertanyakan kualitas lulusan perti. Apakah, dari sudut pandang psikologi, tidak ada solusi untuk hal ini? Misalnya dengan melakukan asesmen secara komprehensif atas minat dan potensi anak, baru diarahkan ke jurusan dan karir yang tepat? Tentu ini akan menjadi tanggung jawab semua pihak.

[11/8 20:18] Ary Tamtama UM Kendari: "Menikah" ini menjadi salah satu poin pilihan jawaban yg menggambarkan kondisi alumni saat ini dalam kuisioner TS dikti...apakah menikah merupakan pengangguran,,Karna tdk mencari kerja??

[11/8 20:19] Rini PJK USU: Setuju mas tutus.. Skr mhsw sy suruh isi minat bakat.com .. Isi MBTI .. Dan sy suruh be yourself.. Jd kalo pun tamat SP tapi passion nya penyanyi ya nyanyi aj laa .. Jangan Ke sawah deh ..

[11/8 20:19] Tutus UGM: Mantap Mas Ted. Yuk ICCN membuat modelnya untuk diujicobakan di satu dua perti dulu, dengan penyempurnaan terus menerus. IMHO, solusi solusi semacam ini yang Indonesia perlukan. Tidak saling lempar tanggung jawab.

[11/8 20:21] ‪+62 857-2894-0930‬: Betul sekalii mas Tutus. Asesmen yg bersifat pemetaan (mapping) bisa digunakan utk membantu tmn2 mahasiswa skrg. Sifatnya mapping ya sperti pda tes minat & bakat, bukan judgement.

[11/8 20:21] Nuni Gofar: Mendorong mahasiswa menjadi dewasa itu bisa dilakukan. Yg sulit mendorong orang tuanya menjadi dewasa.. ini khusus kasus yg ortunya selalu memaksakan kehendak

[11/8 20:23] Tutus UGM: Mbak Gita, bisa dijelaskan secar singkat bagaimana konsep tersebut dilakukan secara tepat di pusat karir? Metode, instrumen, pencatatan, evaluasi dan treatment-nya.

[11/8 20:24] Teddy Binus: Mas Tutus: saya rasa keberagaman pendekatan kita di sini adalah hal yang kaya. Saling berbagi cerita seperti ini justru memperkaya Mas Mba lainnya untuk mengetahui apa yang sudah dicoba dan apa pilihan yang ada. Pasti akan sulit untuk memaksakan satu cara saja, terlalu banyak variabelnya.

[11/8 20:24] Rini PJK USU: Setuju mbak nuni ... Rata2 mhsw S2 sy tanya kenapa kuliah lagi .. Gaya batak nya .. Di suruh mamak kuu ..: kalo mhsw nya bodo banget saya suruh pulang dan bilang ... Suruh mamak mu yg kuliah S2 yaa ..

[11/8 20:25] Suryono Unja: Mas Tutus, maaf saya nggak tahu ke mana harus saya arahkan pertanyaan ini. Ada gak trik khusus (up to date) untuk merangsang kecerdasan minat karir calon lulusan selain melalui cara-cara konvensional (pelatihan, seminar, workshop, etc), mohon penjelasan, tks.

[11/8 20:25] Tutus UGM: Setuju Mas Ted. Paling tidak role model dan katalog solusi-solusinya bisa disusun oleh ICCN, dengan pengembangan fleksibel sesuai kondisi perti.

[11/8 20:28] Tutus UGM: Silakan Mbak dan Mas narasumber untuk menanggapi pertanyaan Mas Suryono: Mas Tutus, maaf saya nggak tahu ke mana harus saya arahkan pertanyaan ini. Ada gak trik khusus (up to date) untuk merangsang kecerdasan minat karir calon lulusan selain melalui cara-cara konvensional (pelatihan, seminar, workshop, etc), mohon penjelasan, tks.

[11/8 20:28] Dewi Unpar: Mas Tutus, pertanyaan apakah bisa dibuat asesmen secara komprehensif atas minat dan potensi anak, baru diarahkan ke jurusan dan karir yang tepat? nah masalahnya karir yg tepat tdk hanya bergantung pada minat dan potensi anak..banyak sekali hal lain, salah satunya kesempatan..misal dari lapangan kerja yg tersedia,

[11/8 20:29] Sukmalesmana UMSU: Kami menggunakan buku bimbingan perencanaan karir yg digunakan dosen pa mengarahkn mahasiswa baru bagaimana memulai kuliah dihubungkam dgn karir masa depan namun blm efektif sdh thn ke 3

[11/8 20:30] ‪+62 857-2894-0930‬: Pertanyaan Mas Tutus: Mbak Gita, bisa dijelaskan secara singkat bagaimana konsep tersebut dilakukan secara tepat di pusat karir?

Kalau menurut saya ada 2 cara, PK pakai instrumen yg sudah ada atau membuat sendiri. Untuk pakai instrumen yg sudah ada, bisa melalui online, terlebih saat ini sudah banyak web yang terpercaya & menawarkan asesmen online. Media online secara tidak langsung lebih dekat dg mahasiswa krna nyatanya mereka saat ini hampir 90% waktu sehari-hari bersinggungan dg media online.
Via offline bisa dijadikan alternatif kedua, menggunakan alat tes yg sahih atau skala yg bisa dipertanggungjawabkan.
Kedua, kalau mau mengembangkan sendiri memang perlu diskusi lebih lanjut dg ahli agar hasilnya bisa dipertanggungjawabkan.

[11/8 20:32] Tutus UGM: Nah Mbak Dewi, dari situlah nanti rekomendasi dikeluarkan untuk mendrive kebijakan pemerintah agar mengembangkan sektor usaha yang masih memiliki gap tinggi dengan minat karir angkatan kerja. Makany memang akan menjadi tanggung jawab nasional.

[11/8 20:32] Dewi Unpar: Utk mas Suryono, mengenai kecerdasan minat karir, tampaknya bukan itu istilah yg tepat ya..minat dan kecerdasan itu berbeda..minat sangat dipengaruhi banyak hal dan sangat mudah berubah2, kecerdasan merupakan bawaan atau bakat dari seseorang

[11/8 20:32] Teddy Binus: Mba Gita dan Mas Mba yang lain, usul: kita kan punya beberapa tes masing2. Yuk kita kumpulkan, lalu yang tertarik silahkan gunakan tes tersebut.

[11/8 20:33] Teddy Binus: Yang berpartisipasi, kita akan share hasilnya

[11/8 20:33] Teddy Binus: Aku punya 6 key soft skill profile, Mas Hady punya derivat MBTI, Mba Gita punya juga ya. Mas Mba yang lainnya yang tertarik, yuk kita gabungkan?

[11/8 20:33] Nuni Gofar: Bisa dijadikan satu program ICCN nih mas Tutus.

[11/8 20:34] Tutus UGM: Ada satu paradox menarik, mungkin suatu bangsa dinilai "tertinggal" dari bangsa lain bukan karena ketidakmampuannya, tapi karena selama ini potensi utamanya tidak dioptimalkan, dan justru dicekoki dengan model, sistem, dan instrumen-instrumen yang "memperkerdil" potensinya tersebut.

[11/8 20:35] Dewi Unpar: Yg bisa kita lakukan adalah MEMBANTU mahasiswa, menemukan minatnya dan memaksimalkan potensinya yg belum berkembang

[11/8 20:35] Rini PJK USU: Yuk mas teddy mauu berbagi

[11/8 20:36] Rini PJK USU: Bole kasih alamat web nya yg ada tes bakat dan sebangsanya ./

[11/8 20:36] Tutus UGM: Setuju Mas Ted. Tidak hanya digabungkan untuk dipakai saja, tapi juga selalu dievaluasi dan dilakukan pencatatan untuk perbaikan masing masing kondisi unik. Tepat Mas Ted.

[11/8 20:36] ‪+62 857-2894-0930‬: Wiih menarik mas Ted. Ecc pnya asessmen terkait minat karir & derivat disc

[11/8 20:37] Tutus UGM: Mbak Gita bisa share alamat web untuk melihat dan mencoba instrumen tersebut ya?

[11/8 20:39] Yanti Rubiyanti UNPAD: Atau kita buat alat ukur sendiri dgn pendekatan psikometri dan konstruksi tes MasTed?

[11/8 20:39] Yanti Rubiyanti UNPAD: Waaaaah mantap nih 6 key soft skill profile

[11/8 20:42] Tutus UGM: Nah ini Mas Sukma dari UMSU malah sudah melakukannya dengan dosen pembimbing akademik. Mantap.

[11/8 20:44] Sukmalesmana UMSU: Doaen pa hrs dibedayakan kan mrk yg dekat sehari-hari dgn mahasiswa ingat merubag softskil itu dgn habbit

[11/8 20:44] Tutus UGM: Tepat. Di situlah Indonesia tidak punya profil profesi dan bidang pekerjaan yang lengkap serta spesifik. Makanya kita tidak perlu heran kalau mahasiswa dan bahkan lulusan perti tidak tahu harus kemana.

[11/8 20:45] Yanti Rubiyanti UNPAD: Sekalian kita bikin saja... learning by doing yaaah mbak Ira... begitu kan mas Ted?

[11/8 20:45] Teddy Binus: Mba Yanti, divisi psikometri di Astra lumayan besar. Kalau mau, saya bisa minta AI untuk sharing apa yang mereka 
lakukan. Kita bisa mulai dengan diskusi dengan mereka.

[11/8 20:45] Tutus UGM: Behavioral based treatment ya Mas Sukma. Menarik.

[11/8 20:47] Teddy Binus: Mas Tutus: saya setuju dengan progres dulu sedikit demi sedikit. Untuk profil pekerjaan, harus bekerja sama dengan perusahaan

[11/8 20:47] Sukmalesmana UMSU: Stelah kita asesment ingat tratement nya dalam pbm sejauhmana pbm kurikulum dan perngkat lainnya mendukung treatment

[11/8 20:47] Teddy Binus: Masing2 kan ada partner perusahaan masing-masing. Itu bisa jadi banyak job profile

[11/8 20:48] Teddy Binus: Mba Ira, profile kita berdasarkan 6 key soft skill itu ada berapa job profile ya?

[11/8 20:49] Tutus UGM: Memang begitu Mas Ted. Echols & Saddily juga tidak membangun kamus Inggris-Indonesia yang termasyhur itu dalam semalam Mas. Sedikit demi sedikit mengumpulkan, serta mencatat.

[11/8 20:50] ‪+62 856-2922-816‬: untuk job profile sudah ada 20 yang terklasifikasi, dan masih akan bertambah sejalan dengan data yang diperoleh. akan bertambah banyak dengan adanya pembedaan senior dan junior

[11/8 20:50] Yanti Rubiyanti UNPAD: Jgn2x dosennya hrs treatment : 

Mirip ini : Kalau mahasiswa Psikologi katanya berobat jalan kalau lulus berarti sembuh kalau dosen Psikologi, apa coba? Kok betah di kampus ?

[11/8 20:50] Sukmalesmana UMSU: Setuju mbak gita sorry mbak kegiatan kt kmaren blm jadi nanti kt setting lagi

[11/8 20:51] Teddy Binus: Mba Yanti, monggo di list dan didrive. Saya dan Ira fleksible waktunya. Mba Ating mungkin mau ikut?

[11/8 20:54] Tutus UGM: Mas dan Mbak semua, diskusi kita malam ini sangat dahsyat dan semoga (pasti) bermanfaat bagi kita semua.

[11/8 20:55] Tutus UGM: Tapi seperti saya ungkapkan di awal, kita hanya sampai pukul 21.08 WIB saja. Nanti hasil rekapan diskusi akan diupload di website.

[11/8 20:55] Tutus UGM: Nah, di akhir diskusi ini, Mas Bambang presiden kita akan menyampaikan satu statement untuk closing diskusi kita.

[11/8 20:58] Sukmalesmana UMSU: Kembali ke topik bahwa utk meningkatkan minat mahasiswa dlm program pengembangan karir semua program hrs bisa dihubungkan dgn nilai yg akan digunakan utk kelulusan mahasiswa

[11/8 21:00] Sukmalesmana UMSU: Misalnya bisa masukkan skor softskill pd nilai akhir mata kuliah

[11/8 21:01] Sukmalesmana UMSU: Tp hrs bicara dgn akademik

[11/8 21:02] Nuni Gofar: Sebelum closing, mungkin saya orang tua yg beda dengan ortu kebanyakan. Anak2 sejak kecil diajarkan untuk memilih sesuai seleranya.. baik sekolah, minat seni, olah raga.. tp harua bertanggungjawab pada pilihannya

[11/8 21:02] ‪+62 857-2894-0930‬: Menambahi sdkit, saat ini ecc jg pnya job profile & company profile yg dinamakan careerpedia & companypedia. Tetapi memang masih butuh data yg bnyak spya lebih konkret.

[11/8 21:04] Bambang itbcc: Alhamdulillah.. sy senang sekali dan menikmati membaca semua diskusinya ??

[11/8 21:05] Bambang itbcc: Baik sy mungkjn sedikit aja ya ingin menyampaikan sesuatu di akhir diskusi

[11/8 21:06] Bambang itbcc: Beberapa hal yg sy ingin garis bawahi

[11/8 21:08] Bambang itbcc: 1. Semua diskusi2 mengambarkan sebetulnya itulah salah satu core layanan dari sebuah pusat karir. Berbagai hal menyangkut penyiapan mrk masuk dunia kerja, atau bahkan memilih jurusan, dll itu peran pusat karir yang generik.

[11/8 21:09] Bambang itbcc: 2. Selain tentu dosen, wali akademik dan sudah tentu kita yg di pusat karir seudah semestinya mampu dan bisa menjadi konselor dalam membimbing mahasiswa menuju karir mrk yg terbaik.

[11/8 21:10] Bambang itbcc: Kalau di luar negeri peran konselor karir, konsultasi karir, mengadakan training, dll itu memang yg mengemuka. Dan para konselor karir bersertifikasi, baik yang berlatar belakang psikolog maupun non psikolog.

[11/8 21:13] Bambang itbcc: 3. Rekomendasi summit pertama ICCN  kemarin adalah salah satunya meredifinisi, mere-konsep pusat karir ini dan khususnya perannya utk di pt2 di indonesia yang sangat  beragam dan sangat besar disparitasnya.

[11/8 21:15] Bambang itbcc: Sedikit mengingatkan bahwa tracer study hanyalah bagian kecil dari tugas pusat karir di indonesia, kalau di luar negeri banya sekali yang tidak mengerjakan hal itu. Krn dikerjakan khusus oleh sebuah riset center atau bahkan juga private company.

[11/8 21:16] Bambang itbcc: 4. Karakteristik PT2 yang berbeda, dan tentu juga karakteristik mahasiswanya yang berbeda2 perlu sekali kita fahami sehingga pendekatannya oleh masing2 pusat karor dan konselor karir tentu tdk harus semua sama.

[11/8 21:17] Bambang itbcc: Meskipun ada juga yang sama, generasi saat ini misalnya yang maunya instan dan mungkn lebih cuek Smile.

[11/8 21:18] Bambang itbcc: Yang berbeda dg generasi saat kita. Pola komunikasi jg yg berbeda, grup jejaringnya jg yg berbeda dg kita menuntut kita hrs menjadi lbh bijak memahami situasinya yang tdk bs disamakan dg kita sendiri. Smile

[11/8 21:21] Bambang itbcc: Terakhir semoga diskusi ini menambah wawasan buat kita semua dan menjadikan sarana in lebih bermanfaat. Tentu saja dg segala keterbatasannya, nanti kalau ada pertemuan atau event2 yang lebih baik bisa semakin baik dan semakin menguatkan semuanya. Learn to each other, sharing ideas dan best practices, membangun jejaring kolega, silaturahmi dan pertemanan.

[11/8 21:23] Dedi Kasi Pusat Karir: Dari awal diskusi says menyimak, pointer2 dari Mas dan Mba Insya Alloh menjadi masukan bagi Kasi Pengembangan Karir Belmawa. Trim. semuanya

[11/8 21:23] Yanti Rubiyanti UNPAD: Ini periode pertemanan yang luar biasa cepat tahapannya... 

Dari tidak tahu terus tahu lalu kenal berteman dan jadi dekat lebih cepat...

[11/8 21:23] Tutus UGM: Wah, ada Kang Dedi rupanya. Mangga Kang Dedi jika ada yang mau ditambahkan..

[11/8 21:28] Tutus UGM: Bailkah teman-temin (meminjam bahasanya Mbak Prof Nuni), demikian diskusi grup kita kali ini. Kesimpulan yang bisa saya ambil adalah: diskusi malam ini warbyasah! dan tidak akan cukup waktu untuk menyimpulkan dalam satu dua jam. Catatan lengkapnya silakan ditunggu di website careercenter.id. Terima kasih Mas Mbak narasumber: Mas Teddy, Mbak Ira, Mbak Yanti, Mbak Gita, Mbak Dewi. Terima kasih peserta diskusi semuanya. Saya yakin catatan malam ini akan menjadi satu tonggak sejarah di masa depan. Selamat malam dan selamat beristirahat.

[11/8 21:32] Dedi Kasi Pusat Karir: Point paling penting  kita sepakat: Tugas Pk bukan hanya Ts, memberikan konsuleling kepada mahasiswa mulai pilih jurusan sampi meniti karir alumni kita wajib dilakukan setiap PK di Perti, Pengelolaan Pk tidak mesti distadarisasi karena  disparitas Perti di Indonesia.

Notulen oleh: Prof. Nuni Gofar (CDC Un. Sriwijaya)


Attached Files Thumbnail(s)
   
Reply


Possibly Related Threads...
Thread Author Replies Views Last Post
  WhatsApp Group Discussion: Career Services (May.12.2016) tutus.kusuma 0 4,822 29-May-2016, 09:04 PM
Last Post: tutus.kusuma

Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon